Oleh: Laksma TNI Dr. dr. R.M. Tjahja Nurrobi, M.Kes, Sp.OT (K) Hand (Wakapuskes TNI)
Opini, AgaraNews. Net // Rumah sakit TNI berada pada posisi yang sangat strategis. Di satu sisi, rumah sakit TNI harus memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, aman, cepat, dan humanis bagi prajurit, keluarga besar TNI, serta masyarakat. Di sisi lain, rumah sakit TNI juga harus selalu siap mendukung operasi militer perang, operasi militer selain perang, penanggulangan bencana, pandemi, krisis kesehatan, dan berbagai bentuk kedaruratan nasional.
Tantangan rumah sakit masa depan tidak lagi sederhana. Rumah sakit tidak hanya dituntut untuk menyembuhkan pasien, tetapi juga harus mampu bertahan ketika terjadi gangguan listrik, krisis air, lonjakan pasien, bencana alam, pandemi, disrupsi logistik, hingga tekanan pembiayaan. Karena itu, konsep rumah sakit berkelanjutan menjadi sangat relevan bagi transformasi rumah sakit TNI.
Rumah sakit berkelanjutan bukan sekadar rumah sakit yang tampak hijau. Lebih dari itu, sustainable hospital adalah rumah sakit yang dirancang dan dikelola agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, aman, tangguh bencana, hemat sumber daya, rendah emisi, ramah lingkungan, berbasis teknologi, serta berkelanjutan secara klinis, operasional, sosial, dan finansial.
Bagi rumah sakit TNI, transformasi ini memiliki makna yang lebih luas. Rumah sakit TNI masa depan harus menjadi rumah sakit yang tangguh, hijau, cerdas, efisien, aman, dan siap operasi. Artinya, rumah sakit tetap mampu melayani pasien dalam kondisi normal, tetapi juga siap berubah menjadi simpul dukungan kesehatan saat krisis, bencana, pandemi, maupun OMP dan OMSP.
Transformasi rumah sakit TNI menuju sustainable hospital dapat dibangun melalui beberapa pilar utama. Pertama, green hospital, yaitu rumah sakit yang mengutamakan efisiensi energi dan air, pengelolaan limbah medis dan nonmedis secara aman, ruang hijau, pencahayaan alami, ventilasi baik, serta penggunaan material ramah lingkungan. Rumah sakit yang hemat energi dan rendah emisi bukan hanya baik bagi lingkungan, tetapi juga mengurangi biaya operasional jangka panjang.
Kedua, smart hospital, yaitu rumah sakit yang memanfaatkan teknologi digital untuk mempercepat, mempermudah, dan meningkatkan mutu pelayanan. Digitalisasi rekam medis, SIMRS, dashboard manajemen, telemedicine, pemantauan real time, integrasi data pelayanan dan logistik, serta pengambilan keputusan berbasis data menjadi fondasi penting. Rumah sakit yang cerdas adalah rumah sakit yang mampu mengetahui masalah lebih cepat, mengambil keputusan lebih tepat, dan memberikan layanan lebih aman.
Ketiga, eco hospital, yaitu rumah sakit yang menerapkan operasional hemat sumber daya, pengadaan berkelanjutan, rantai pasok hijau, pengurangan plastik sekali pakai, serta budaya kerja peduli lingkungan. Dalam konteks TNI, eco hospital penting karena rumah sakit tidak hanya menjadi tempat pelayanan, tetapi juga contoh disiplin organisasi dalam menjaga sumber daya dan lingkungan.
Keempat, resilient hospital, yaitu rumah sakit yang siap menghadapi bencana, pandemi, konflik, gangguan listrik, krisis air, serta lonjakan pasien. Rumah sakit TNI harus memiliki jalur evakuasi yang aman, cadangan listrik dan air, sistem komando insiden, latihan berkala, sistem rujukan yang jelas, kapasitas lonjakan atau surge capacity, serta kesiapan fasilitas untuk tetap beroperasi dalam kondisi darurat.
Kelima, patient and staff safety. Transformasi rumah sakit tidak boleh mengabaikan keselamatan pasien dan keselamatan personel. Keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama. Pencegahan infeksi, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan tenaga kesehatan, kesehatan mental personel, serta budaya mutu harus menjadi bagian dari sistem kerja sehari-hari.
Keenam, governance and efficiency. Rumah sakit berkelanjutan membutuhkan kepemimpinan, regulasi internal, audit berkelanjutan, efisiensi biaya, penggunaan sumber daya 5M, kolaborasi lintas matra, dan jejaring kerja sama. Tata kelola yang kuat menjadi kunci agar transformasi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar menjadi gerakan organisasi.
Pendekatan 5M menjadi kerangka penting dalam implementasi rumah sakit TNI berkelanjutan. Pada aspek Man, SDM rumah sakit harus dilatih secara rutin dalam kesiapsiagaan bencana, patient safety, pencegahan infeksi, manajemen insiden, serta budaya keselamatan. Pada aspek Money, pembiayaan perlu diarahkan pada investasi yang memberi dampak jangka panjang, seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah, digitalisasi, panel surya, lampu hemat energi, dan sistem cadangan air.
Pada aspek Material, rumah sakit perlu memastikan ketersediaan logistik esensial, obat, APD, oksigen, air bersih, bahan habis pakai kritis, serta pemilahan limbah yang aman. Pada aspek Method, diperlukan SOP terpadu mengenai green hospital, smart hospital, eco hospital, disaster plan, keselamatan pasien, pencegahan infeksi, dan monitoring indikator. Sementara pada aspek Machine, rumah sakit perlu memperkuat sarana teknologi, smart building system, telemedicine, dashboard utilitas, ketahanan fasilitas, cadangan listrik, serta alat kesehatan hemat energi.
Keberhasilan transformasi dapat diukur melalui indikator yang jelas. Misalnya, peningkatan efisiensi listrik dan air, penurunan emisi karbon, meningkatnya pemilahan limbah medis sesuai standar, meningkatnya digitalisasi layanan, peningkatan kepuasan pasien, dan meningkatnya skor kesiapsiagaan bencana. Indikator ini penting agar transformasi rumah sakit tidak hanya bersifat administratif, tetapi dapat dievaluasi secara nyata dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, rumah sakit TNI berkelanjutan bukan hanya rumah sakit yang hijau. Rumah sakit TNI masa depan harus menjadi rumah sakit yang green, smart, safe, resilient, efficient, dan mission-ready. Transformasi harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan berkelanjutan. Sinergi lintas matra, kolaborasi sipil-militer, kepemimpinan yang kuat, data yang akurat, disiplin implementasi, serta evaluasi berkala menjadi kunci keberhasilan.
Dengan transformasi ini, rumah sakit TNI diharapkan semakin tangguh menghadapi bencana dan pandemi, semakin efisien dan rendah karbon, semakin cerdas dan digital, semakin aman bagi pasien dan SDM, serta semakin siap mendukung OMP, OMSP, pelayanan kesehatan, dan ketahanan kesehatan nasional.8 Rumah sakit TNI harus siap menjadi model rumah sakit masa depan: hijau, cerdas, tangguh, dan berkelanjutan untuk Indonesia.(Lia Hambali)
( Materi disampaikan saat Webinar RSPAD Gatot Soebroto 1 Juli 2026)
































