KOPRI PKC PMII Aceh Gelar Nobar dan Diskusi Film “Pesta Babi”, Soroti Krisis Lingkungan hingga Suara Perempuan

LIA HAMBALI

- Redaksi

Kamis, 21 Mei 2026 - 22:11 WIB

5037 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Banda Aceh, AgaraNews . Net | KOPRI PKC PMII Aceh menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi di Sekretariat Fatayat NU, Jumat, 15 Mei 2026 malam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua KOPRI PKC PMII Aceh, Desi Hartika, mengatakan tujuan pemutaran film tersebut menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk kembali menghidupkan daya kritis terhadap berbagai persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan di Indonesia.

Film Dokumenter karya Dhandy Dwi Laksono tersebut, kata Desi bukan sekadar agenda hiburan, melainkan upaya membangun kesadaran mahasiswa agar tidak terjebak dalam sikap apatis terhadap kondisi bangsa.

Menurutnya, idealisme mahasiswa saat ini mulai terkikis oleh berbagai keadaan. Karena itu, melalui film dokumenter tersebut, mahasiswa diajak kembali berpikir kritis dan melihat bahwa masih banyak persoalan besar yang perlu diselesaikan bersama.

Film ini mengajak kita menyadari bahwa negara ini belum sepenuhnya merdeka dari berbagai persoalan. Masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diperjuangkan bersama,” ujar Desi dalam sesi diskusi.

Dalam diskusi itu, Desi juga menyinggung persoalan operasi militer dan konflik sosial yang pernah dialami Aceh di masa lalu. Ia menilai pengalaman tersebut membuat masyarakat Aceh memiliki kedekatan emosional terhadap penderitaan masyarakat Papua yang saat ini menghadapi berbagai persoalan sosial dan lingkungan.

Selain isu kemanusiaan, diskusi turut menyoroti ancaman deforestasi dan eksploitasi sumber daya alam. Desi berharap pembangunan industri, termasuk yang akan berkembang di Aceh, tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

Papua disebut sebagai paru-paru dunia, begitu juga Aceh yang masih memiliki alam yang baik. Industri memang dibutuhkan, tetapi harus ada jalan tengah agar pembangunan tidak merusak lingkungan dan merugikan masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, hasil diskusi mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat berkembang menjadi bentuk advokasi dan rekomendasi kebijakan di masa mendatang.

KOPRI juga menilai film Pesta Babi memiliki keterkaitan kuat dengan perjuangan perempuan. Dalam film tersebut, perempuan digambarkan sebagai kelompok yang paling terdampak, tetapi tetap berani melawan ketidakadilan meski tanpa perlindungan dan kekuasaan yang memadai.

Ia mencontohnya, banyak keterangan narasumber yang diangkat berasal dari perempuan, ada bekerja di perusahaan sawit namun pembayarannya tak memadai.

“Perempuan-perempuan di sana tetap berani bersuara dan melawan ketidakadilan, Karena itu, kami mengajak seluruh kader KOPRI untuk menunjukkan solidaritas terhadap mereka,” ujar Desi.

Ia juga menyoroti ketimpangan dalam pengelolaan sumber daya alam yang dinilai sering kali hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara masyarakat luas tidak merasakan manfaat yang adil.

“Mahasiswa harus tetap menjadi kelompok yang kritis dan mampu mengawasi kebijakan pemerintah. Ketika ada masyarakat yang merasa dirugikan, mahasiswa harus hadir untuk menjembatani dan memperjuangkan solusi,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, KOPRI PKC PMII Aceh berharap lahir kesadaran baru di kalangan generasi muda untuk lebih peduli terhadap persoalan lingkungan, hak masyarakat adat, dan masa depan bangsa.

Seperti di ketahui film ini menceritakan tentang perjuangan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi masifnya ekspansi industri dan proyek negara di tanah leluhur mereka.

Karya Dhandy Dwi Laksono tersebut merekam penolakan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu terhadap proyek biodiesel dan bioetanol yang dinilai mengancam ruang hidup mereka.

Melalui simbol tradisi pesta babi yang erat dengan makna kehormatan dan persaudaraan, film ini juga menggambarkan hubungan kuat masyarakat Papua dengan alamnya.

Film ini diproduksi melalui kolaborasi Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia.(Lia Hambali)

Berita Terkait

Hening di Tengah Malam, Kapolres Simalungun Beri Penghormatan untuk Pahlawan Tuan Rondahaim Jelang HUT RI ke-81
Kompak dan Solid, Forkopimda Simalungun Buktikan Sinergitas Bukan Sekadar Seremoni
Kapolres Simalungun Hadiri Pisah Sambut Kalapas Pematang Siantar, Wujud Sinergitas Forkopimda
Sigap Respons Laporan 110, Polsek Purba Bersama Tim INAFIS Ungkap Penyebab Kematian Petani di Gubuk Ladang
Aksi Memukau Polisi Cilik Binaan Polres Simalungun Curi Perhatian Bupati, Wujud Nyata Polri Humanis Sejak Dini
Kapolres Simalungun Turut Sambut Kunjungan Kerja Pangdam I/Bukit Barisan di Bumi Habonaron Do Bona
Kapolres Jakut Cek Kesiapan Jamuan Rakyat di Kali Jodo
Pesta Jamuan Rakyat Peringati HUT RI ke-81, Forkopimko Jakarta Utara Tegaskan Komitmen Tolak Tawuran

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:07 WIB

Hening di Tengah Malam, Kapolres Simalungun Beri Penghormatan untuk Pahlawan Tuan Rondahaim Jelang HUT RI ke-81

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Kompak dan Solid, Forkopimda Simalungun Buktikan Sinergitas Bukan Sekadar Seremoni

Rabu, 19 Agustus 2026 - 21:00 WIB

Kapolres Simalungun Hadiri Pisah Sambut Kalapas Pematang Siantar, Wujud Sinergitas Forkopimda

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:54 WIB

Sigap Respons Laporan 110, Polsek Purba Bersama Tim INAFIS Ungkap Penyebab Kematian Petani di Gubuk Ladang

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:48 WIB

Aksi Memukau Polisi Cilik Binaan Polres Simalungun Curi Perhatian Bupati, Wujud Nyata Polri Humanis Sejak Dini

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:37 WIB

Kapolres Jakut Cek Kesiapan Jamuan Rakyat di Kali Jodo

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:33 WIB

Pesta Jamuan Rakyat Peringati HUT RI ke-81, Forkopimko Jakarta Utara Tegaskan Komitmen Tolak Tawuran

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:29 WIB

Polisi Humanis, Polwan Polres Metro Jakarta Utara Bantu Lansia Antre Bansos di JIS

Berita Terbaru