Medan, AgaraNews. Net // Di atas kursi roda yang telah lama menjadi tumpuannya, Yestin Laia merajut sisa tenaga di tengah empasan angin malam Kota Medan.
Jumat, 28 Agustus 2026 malam, di pinggir Jalan Lapangan Merdeka, wanita paruh baya itu duduk terpaku. Di hadapannya terhampar bingkai foto putrinya, Winda Lorenza Gowasa, dikelilingi lautan lilin dan mawar putih.
Di tengah puluhan massa aksi damai, air matanya tak henti menetes. Ia membawa satu keyakinan: *buah hatinya tidak tewas karena bunuh diri, melainkan korban kejahatan.
Didampingi suami, Sanalui Gowasa (55), Yestin menggenggam pengeras suara dengan suara berat namun berapi-api.
Suasana khidmat menyelimuti Lapangan Merdeka sejak pukul 18.00 WIB. Massa menyalakan lilin selepas Magrib tanpa mengganggu arus lalu lintas.
“Ya Tuhan, tunjukkan kerajaan-Mu kepada kami. Semoga hati bapak-bapak itu terbuka, karena kami yakin anak kami bukan bunuh diri,” ucap Yestin dengan suara bergetar.
Lumpuh bertahun-tahun tak melumpuhkan bara di dadanya. Sebagai seorang ibu, ia menolak mentah-mentah narasi bunuh diri yang disampaikan Polrestabes Medan.
Luka Yestin kian dalam saat mengenang alur hubungan Winda dengan mantan suaminya, Brigadir Imansyah Harefa.
Keduanya resmi bercerai sejak 2021. Namun Juli lalu, takdir mempertemukan kembali. Winda yang sedang di Jakarta dijemput orang tua Brigadir Imansyah. Saat itu Brigadir IH menemuinya dan menyatakan niat bertaubat serta ingin merajut kembali rumah tangga demi anak-anak.
“Saya juga bertemu dengan Brigadir IH, dia bilang sudah bertaubat dan mengatakan demi anak-anak,” kenang Yestin getir.
Namun janji itu berubah malapetaka. Setelah 2 bulan tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan resmi, Winda ditemukan tewas mengenaskan
Aksi 1000 Lilin ini bukan sekadar ruang ratapan. Melalui spanduk yang dibentangkan, keluarga bersama massa menuntut :
1. Segera lakukan Ekshumasi secara independen
2. Ambil alih proses penyidikan ke Polda Sumut
3. Transparansi penanganan perkara
Tuntutan itu ditegaskan Tim Kuasa Hukum keluarga Almh. Winda Lorenza Gowasa yang hadir di lokasi. Tim dipimpin Paul Junisu Jethro Tambunan, SH., MH, didampingi Utreck Richardo Siringoringo, SH., MH, Marudut Hasiholan Gultom, SH., MH, Daniel Steven Sihotang, SH., Marthin Van Hof Manurung, SH, Farasian Marbun, SH, Yetti Q H Simamora, SH., MH, dan Rizon Polmar Simanjuntak, SH.
“Kalau tidak ada yang ditutup-tutupi dan janggal, pasti Kapolda Sumut, Dirreskrimum serta Kapolrestabes akan responsif untuk segera melaksanakan ekshumasi. Agar kasus ini terang benderang sehingga kejanggalan-kejanggalan yang dirasakan keluarga dapat terungkap,” tegas Paul.
Keluarga juga memohon agar dilakukan autopsi ulang terhadap jenazah Winda yang telah dikebumikan, demi membuka tabir kebenaran yang diyakini masih tersembunyi.
Aksi damai berakhir dengan doa bersama. Di balik ketenangan malam itu, tersimpan gelora tuntutan seorang ibu yang menolak menyerah pada takdir tragis yang merenggut nyawa anaknya di usia 30 tahun.
Keluarga berharap Polda Sumut segera merespons dan mengambil alih kasus ini agar penyidikan berjalan objektif, transparan, dan dapat mengembalikan marwah keadilan bagi Winda.(DV/Lia Hambali)


































