Nias.Agaranews.net – Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) atau Dana BOS di SMP Negeri 1 Idanogawo, Kabupaten Nias, kembali menjadi sorotan. Persoalan tersebut mendapat perhatian publik setelah sejumlah kondisi fasilitas sekolah dipertanyakan dan mendorong desakan agar penggunaan anggaran diperjelas secara terbuka.
Sorotan itu disampaikan Feberius Buulolo, aktivis antikorupsi Kepulauan Nias, saat diwawancarai, Sabtu (19/9/2026). Ia menilai perhatian terhadap pengelolaan Dana BOS di sekolah tersebut bukan persoalan yang muncul sekali, melainkan telah menjadi pembicaraan di tengah masyarakat.
“Dana BOS SMP Negeri 1 Idanogawo bukan hanya satu kali disorot. Sampai detik ini persoalan tersebut terus menjadi perhatian publik di Kepulauan Nias dan ramai diperbincangkan,” ujar Buulolo.
Menurutnya, perhatian masyarakat perlu dijawab dengan keterbukaan mengenai perencanaan, penggunaan hingga pertanggungjawaban Dana BOS. Terlebih, anggaran pendidikan pada dasarnya diperuntukkan mendukung kebutuhan dan peningkatan layanan pendidikan bagi peserta didik.
Feberius meminta pihak sekolah tidak alergi terhadap kritik dan pertanyaan publik. Menurut dia, penjelasan mengenai jumlah siswa, besaran Dana BOS yang diterima, serta rincian penggunaannya penting disampaikan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
“Kalau seluruh penggunaan anggaran sudah sesuai ketentuan, tentu tidak ada alasan untuk tidak menjelaskan kepada publik. Yang harus dikedepankan adalah transparansi dan akuntabilitas,” katanya.
Ia juga mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Nias melakukan klarifikasi dan pengawasan sesuai kewenangannya terhadap pengelolaan Dana BOS SMP Negeri 1 Idanogawo. Jika diperlukan, pemeriksaan administrasi maupun penggunaan anggaran dapat dilakukan melalui mekanisme resmi untuk memastikan seluruh penggunaan dana sesuai aturan.
Sebelumnya, kondisi sejumlah fasilitas di SMP Negeri 1 Idanogawo turut menjadi perhatian, di antaranya kondisi meja dan kursi yang dimakan usia, pintu ruang kelas yang disebut belum diganti, wastafel yang tampak mengalami berkarat dan dimakan usia serta bagian plafon yang kondisinya perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar munculnya pertanyaan publik mengenai prioritas penggunaan anggaran sekolah.(Dika)


































