Bogor – AgaraNews. Net – Rabu, 17 September 2026 //Sejumlah pengendara mengeluhkan kondisi jalan berlubang di wilayah Kabupaten Bogor yang hingga kini belum mendapat penanganan. Keluhan ini mencuat di bulan Ramadhan 1447 H, tepatnya Maret 2026 lalu, ketika intensitas hujan lebat memperparah kerusakan jalan.
Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Jalan dan Jembatan Kelas A Wilayah IV Ciampea, Yudhi Rahmawan, mengakui adanya kerusakan di jalur dari jembatan dekat lapangan tembak menuju Ciampea.
“Iya, yang dari jembatan dekat lapangan tembak ke arah Ciampea yang rusak,” ujarnya.
Menurut Yudhi, kerusakan berat akan diusulkan untuk rekonstruksi melalui mekanisme lelang proyek. Sementara perbaikan tambal sulam masih menunggu proses pengadaan barang dan jasa.
“Sedang diusulkan dulu perencanaannya. Untuk tambal sulam sedang menunggu proses pengadaan barang dan jasa. Nanti mengikuti jadwal yang sudah direncanakan,” tambahnya.
Untuk sementara, pihaknya hanya memasang rambu peringatan di titik-titik rawan agar pengendara lebih waspada.
Sebelumnya, warga Kampung Padmon, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, juga menyampaikan keluhan serupa. Jalan di wilayah tersebut mengalami kerusakan cukup parah dengan permukaan berlubang dan tidak rata.
“Kalau hujan lubangnya tidak kelihatan karena tertutup air. Pengendara sering kaget dan hampir jatuh,” ungkap seorang warga, Senin (09/03/2026).
Kerusakan jalan ini dinilai menghambat mobilitas warga, memperlambat distribusi barang, serta mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Kondisi lebih parah terjadi di jalan Kabupaten Cikampak-Bojong Rangkas, Kecamatan Ciampea. Ruas yang seharusnya menghubungkan dua kecamatan itu kini lumpuh selama tiga tahun akibat longsor yang tidak kunjung ditangani tuntas.
Ruas jalan kini menyempit menjadi hanya dua meter. Hanya sepeda motor yang masih bisa melintas, sementara kendaraan roda empat terpaksa memutar melalui perumahan dan jalan desa yang sempit untuk menuju kawasan Pamijahan, serta fasilitas publik seperti SPBU dan SPBG.
Longsor pertama terjadi tiga tahun lalu. Meski perbaikan sudah dianggarkan sejak 2015, penanganan baru berjalan belakangan. Ironisnya, kebijakan efisiensi anggaran membuat proyek turap hanya mendapat kucuran Rp1,7 miliar dari rencana awal Rp3 miliar, sehingga pekerjaan tidak tuntas. Longsor susulan pada November tahun lalu memperparah kondisi jalan.
Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Muhammad Hasani, menegaskan pembukaan jalan secara paksa untuk kendaraan roda empat bukan solusi yang aman.
“Kalau dipaksakan dibuka untuk roda empat, risikonya sangat besar. Bisa terjadi longsor lagi dan membahayakan keselamatan pengguna jalan,” tegasnya, Selasa (17/9/2026).
Hasani menekankan efisiensi anggaran harus dilakukan secara terukur, tidak boleh mengorbankan keselamatan publik. Ia berharap ada dukungan penuh dari Bupati Bogor, DPRD, dan Badan Anggaran agar sisa pekerjaan dapat diselesaikan tahun ini.
“Ini demi keselamatan, kelancaran mobilitas warga, dan kepentingan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Suara kritis datang dari Furkon, aktivis asal Bogor Barat.
“Jalan di Cikampak ti zaman Ibu Ade Yasin, nepi ka ayeuna longsor leutik jadi longsor gede, nepi ka ayeuna teu dibenerkeun,” ujarnya.
Artinya : Jalan di Cikampak dari era Bupati Ade Yasin sampai sekarang, dari longsor kecil hingga menjadi longsor besar, tak juga diperbaiki.
Dampaknya, warga yang hendak menuju Puri Arraya Cicadas atau Segog dengan roda empat harus memutar jauh lewat Perumahan Dramaga Pratama. Angkot pun mengubah jalur operasional, menambah waktu tempuh dan biaya transportasi.
Kerusakan ini berdampak meluas ke ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Distribusi bahan bakar ke SPBU dan SPBG terganggu, biaya logistik naik, siswa harus menempuh jalur lebih panjang, dan akses ke fasilitas kesehatan menjadi lebih sulit, terutama dalam kondisi darurat.(Ipul/Lia Hambali)


































