Langkat, AgaraNews.Net – Di lokasi TMMD ke-128 Kodim 0203/Langkat, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, tidak ada jarak antara prajurit dan warga. Menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan TNI dan masyarakat, mereka merajut besi, mengaduk semen, dan mengorek pondasi dalam satu irama kerja yang padu.
Pembangunan jembatan 6 x 4 meter ini bukan sekadar proyek fisik. Ia menjadi bukti nyata bahwa TNI AD selalu hadir sebagai bagian dari solusi atas kesulitan rakyat di daerah pelosok.
Sejak pagi, prajurit Satgas TMMD 128 sudah bergabung dengan warga di lokasi pembangunan. Tidak ada perintah kaku, tidak ada sekat pangkat. Yang ada hanya kerja bersama di bawah terik Langkat.
“Kami hadir bukan hanya sebagai aparat, tapi sebagai motivator. Budaya gotong royong inilah yang kami bangkitkan kembali,” ungkap Pasiter Kodim 0203/Langkat, Kapten Inf Supriadi.
Bagi warga, kebersamaan ini menghidupkan kembali semangat yang sudah lama jarang terlihat. Orang tua, pemuda, bahkan ibu-ibu turut membantu mengangkut material dan menyiapkan konsumsi untuk para pekerja. Loreng dan baju lusuh warga bersatu dalam satu tujuan: menyelesaikan jembatan impian.
Jembatan sepanjang 6 meter dan lebar 4 meter ini dibangun untuk menghubungkan dua sisi desa yang selama ini terpisah oleh aliran sungai. Selama musim hujan, akses warga sering terputus, anak-anak kesulitan ke sekolah, dan hasil kebun sulit dibawa keluar.
Saat pondasi mulai tertanam, di sanalah harapan warga untuk akses desa yang lebih layak mulai tumbuh. Dengan adanya jembatan ini, aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga diprediksi akan berjalan lebih lancar.
“Kalau jembatan ini jadi, kami tidak perlu memutar jauh lagi. Anak-anak juga lebih aman berangkat sekolah,” ujar salah seorang warga yang ikut bergotong royong.
Bagi Satgas TMMD 128, jembatan ini memiliki makna lebih dari sekadar infrastruktur. Ia adalah simbol penghubung antara TNI dan rakyat, antara desa dan kemajuan.
Sebuah jembatan yang tak hanya menghubungkan dua sisi daratan, tapi juga mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Di Pasar Rawa, seragam loreng dan peluh warga menyatu, membuktikan bahwa pembangunan akan cepat terwujud jika dikerjakan bersama.
Ketika jembatan ini selesai, yang berdiri di atasnya bukan hanya beton dan besi. Yang berdiri adalah kepercayaan, kerja sama, dan semangat gotong royong yang kembali hidup di tengah masyarakat Gebang.(Lia Hambali)
































