Opini, AgaraNews. Net // Selama ini kita menganggap narkoba yang paling berbahaya adalah yang disuntik, diminum, atau dihisap. Padahal, ada “narkoba” lain yang setiap hari kita pegang, kita bawa ke mana-mana, bahkan kita bawa ke tempat tidur. Benda tersebut tidak dijual secara sembunyi-sembunyi, tetapi hadir di dalam telepon genggam yang ada di tangan kita.
“Narkoba digital” adalah istilah kiasan untuk menggambarkan kecanduan terhadap media sosial, video pendek, dan konten digital yang terus-menerus memancing pelepasan dopamin di otak. Semakin sering seseorang mencari hiburan instan, semakin besar keinginan untuk mengulanginya. Tanpa disadari, waktu, fokus, dan produktivitas dirampas sedikit demi sedikit.
Lihatlah kehidupan kita hari ini. Bangun tidur yang pertama dicari adalah telepon genggam. Saat makan membuka media sosial. Saat bekerja membuka notifikasi. Sebelum tidur kembali menggulir layar hingga larut malam. Berjam-jam habis tanpa menghasilkan pengetahuan, keterampilan, atau karya yang bermanfaat.
Inilah bahaya yang sering tidak disadari. Kecanduan digital tidak merusak tubuh secepat narkotika, tetapi perlahan menggerus disiplin, melemahkan konsentrasi, menumpulkan daya pikir, mengurangi kreativitas, dan mencuri impian generasi muda. Banyak orang merasa sibuk setiap hari, padahal tidak benar-benar berkembang.
Akibatnya, budaya membaca menurun, diskusi semakin jarang, olahraga ditinggalkan, hubungan dengan keluarga melemah, prestasi merosot, dan produktivitas tergantikan oleh hiburan tanpa batas. Generasi yang seharusnya menjadi pencipta inovasi justru menjadi penonton yang menghabiskan hidupnya dengan menggulir layar.
Teknologi bukan musuh. Telepon genggam bukanlah benda yang salah. Yang menjadi masalah adalah ketika manusia kehilangan kendali atas cara menggunakannya. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk belajar, berkarya, membangun usaha, memperluas wawasan, dan memperjuangkan masa depan, bukan menjadi penjara yang membatasi potensi diri.
Sudah saatnya generasi muda melakukan “detoks digital”. Kurangi waktu yang tidak bermanfaat di media sosial, perbanyak membaca buku, berdiskusi, berorganisasi, berolahraga, berkarya, dan membangun masa depan. Jangan biarkan dopamin sesaat mengalahkan cita-cita yang membutuhkan perjuangan.
Narkoba kimia memang dapat merusak tubuh, tetapi narkoba digital dapat merampas waktu, fokus, karakter, dan masa depan. Jika yang pertama menghancurkan kesehatan, yang kedua dapat menghancurkan potensi sebuah generasi.(Lia Hambali)
Penulis : Yulans FY Wenda, S.HI
































