BANDA ACEH – agaranews.net// Suasana Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Golkar Aceh di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu (11/7/2026), tidak hanya diwarnai pembahasan strategi organisasi dan agenda politik. Forum konsolidasi tersebut juga menghadirkan nuansa budaya Aceh yang kental melalui penampilan Tari Saman, tarian khas masyarakat Gayo yang memukau seluruh tamu undangan.
Sesaat sebelum agenda utama dimulai, puluhan penari memasuki ruangan dengan balutan busana adat Gayo yang didominasi warna hitam berpadu merah, kuning, dan hijau. Tepuk tangan peserta langsung bergema ketika para penari mengambil posisi berjajar rapat di atas panggung.
Lantunan syair berbahasa Gayo mengawali pertunjukan. Dalam hitungan detik, gerakan tangan yang serempak, tepukan dada, hentakan tubuh, serta perubahan tempo yang semakin cepat membuat seluruh mata tertuju ke panggung. Kekompakan para penari menghadirkan atraksi yang memadukan seni, disiplin, dan kebersamaan, menciptakan suasana yang begitu hidup di dalam ruang Rakerda.
Deretan tamu undangan tampak menikmati setiap bagian pertunjukan. Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, bersama jajaran pengurus DPP, para kepala daerah, anggota legislatif, hingga kader Partai Golkar dari seluruh kabupaten dan kota di Aceh terlihat memberikan tepuk tangan meriah saat tarian mencapai klimaks.
Riuh tepuk tangan kembali menggema ketika para penari menutup penampilan dengan formasi yang tetap rapi dan kompak. Beberapa tamu bahkan mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam sebagai bentuk apresiasi terhadap salah satu warisan budaya paling terkenal dari Aceh.
Penampilan Tari Saman menjadi lebih dari sekadar hiburan pembuka. Tarian yang berasal dari dataran tinggi Gayo itu membawa pesan tentang persatuan, kekompakan, disiplin, serta semangat bekerja bersama. Nilai-nilai tersebut seolah selaras dengan tema konsolidasi Partai Golkar Aceh yang tengah memperkuat soliditas organisasi menghadapi berbagai agenda politik dan pembangunan daerah.
Pemilihan Tari Saman sebagai suguhan budaya juga menjadi simbol penghormatan terhadap identitas Aceh. Di tengah dinamika politik yang terus berkembang, pelestarian budaya tetap mendapat ruang penting sebagai bagian dari jati diri daerah.
Atmosfer hangat yang tercipta sejak awal acara membuat pelaksanaan Rakerda berlangsung lebih cair. Perpaduan antara agenda politik dan pertunjukan budaya menghadirkan kesan bahwa pembangunan organisasi tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga nilai-nilai lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Setelah pertunjukan usai, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembukaan resmi Rakerda, yang menjadi forum strategis bagi Partai Golkar Aceh untuk menyusun program kerja, memperkuat konsolidasi internal, serta merumuskan langkah-langkah organisasi dalam mendukung pembangunan Aceh.
Momentum tersebut sekaligus menunjukkan bahwa budaya mampu menjadi perekat kebersamaan. Di tengah perbedaan latar belakang dan pandangan politik, irama dan kekompakan Tari Saman menghadirkan satu pesan yang sama: keberhasilan hanya dapat dicapai melalui persatuan, disiplin, dan kerja sama.
Dengan menghadirkan Tari Saman di panggung Rakerda, Partai Golkar Aceh tidak hanya menyelenggarakan agenda organisasi, tetapi juga memberikan ruang bagi kekayaan budaya daerah untuk tampil di hadapan para pemimpin nasional dan daerah. Pesan yang ingin disampaikan pun terasa kuat, bahwa kemajuan Aceh tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan strategi politik, tetapi juga melalui komitmen menjaga serta melestarikan warisan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Ady gegoyong


































