Tebet, 7 Mei 2026, AgaraNews. Net // PP KAMMI dan Digdaya Indonesia menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi Hardiknas 2026: Ke Mana Arah Pendidikan Bangsa?” di Tebet pada Kamis, 7 Mei 2026. Diskusi ini dihadiri oleh beberapa narasumber, termasuk Nur Berlian V. Ali, Analis Kebijakan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen RI, Agung Pardini, Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), Nazmul Watan, Sekretaris Jendral PP KAMMI, dan Arsandi, Kabid Kebijakan Publik PP KAMMI.
Nazmul Watan menilai bahwa anggaran pendidikan saat ini mengalami tekanan serius akibat pengalihan dana untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, sekitar Rp223 triliun dari anggaran pendidikan dialihkan untuk program MBG, yang setara dengan 29 persen dari total anggaran pendidikan dalam APBN 2026 sebesar Rp769 triliun.
Nur Berlian V. Ali mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 3,5 juta anak di Indonesia yang tidak bersekolah. Ia menyebut faktor biaya pendidikan dan tuntutan bekerja menjadi alasan utama anak tidak melanjutkan pendidikan.
Agung Pardini menyoroti adanya fenomena “kekosongan kognitif” dalam sistem pendidikan Indonesia. Mengacu pada data World Bank melalui Human Capital Index tahun 2020, rata-rata lama sekolah masyarakat Indonesia mencapai 12,4 tahun, namun hanya menghasilkan ekuivalen kemampuan kognitif sebesar 7,8 tahun pembelajaran efektif.
Arsandi menegaskan bahwa cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa pembenahan serius di sektor pendidikan. Menurutnya, pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa saat ini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, mulai dari akses pendidikan yang belum merata, kondisi infrastruktur sekolah yang masih memprihatinkan, hingga kesejahteraan guru honorer yang jauh dari kata layak. (Lia Hambali)
































