Catatan, AgaraNews.Net // Ada pertemuan yang mengubah takdir.
Ada pelukan yang menyembuhkan luka.
Dan ada seorang anak bernama “Alo “, yang datang dari Papua… membawa serta harapan. Kisah ini bukan tentang siapa yang menolong siapa.
Ini tentang dua hati yang akhirnya saling memilih untuk menjadi keluarga, itulah awal cerita Sertu Tisantro Sitanggang personel Yonif 126/KC ketika ngobrol santai dengan Tim Media ini pada Senin 31/8/2026 lalu, bertempat di Kompi B Yonif 126/KC.
Kebetulan penulis ngefans berat sama Tisantro ( Bapa Alo ), makanya sengaja jauh – jauh datang dari Tanah Karo hanya ingin mendengar kisah seorang Prajurit Yonif 126/KC yang sempat viral karena kelembutan hatinya, berani mengadopsi seorang anak Papua meskipun beliau masih lajang.
Sertu Tisantro Sitanggang melanjutkan ceritanya, bahwa Ia tidak pernah merencanakan ini.
Tidak ada skenario. Tidak ada target.
Yang ada hanya hati yang tidak tega melihat seorang anak jauh dari rumah.
“Awalnya, kami hanya ingin menjadi tempatnya bertumbuh, menjaganya, menyayanginya, dan memastikan Adek Alo mendapatkan kehidupan serta pendidikan yang lebih baik,” ucapnya pelan.
Adek Alo datang dengan tas kecil dan mata yang besar. Mata yang menyimpan rindu kampung, tapi juga menyimpan harapan. Di tanah yang baru ini, ia tidak dijanjikan kemewahan. Ia hanya dijanjikan satu hal ” Kamu tidak sendirian lagi ”
Waktu berjalan, ada sarapan bersama sebelum sekolah. Ada PR yang dikerjakan sambil tertawa. Ada obat yang disuapkan saat demam. Ada doa malam yang dipanjatkan bersama.
Pelan-pelan, kata “adik asuh” mulai kehilangan makna. Karena yang tinggal di rumah itu bukan lagi “anak titipan” tapi “anak “.
“Dari sana, hubungan kami perlahan berubah. Bukan lagi sekadar adik asuh, tetapi sudah seperti keluarga sendiri,” kata Tisantro sambil menahan haru.
Alo memanggil dengan sebutan yang tulus dan Tisantro menjawab dengan tanggungjawab yang tidak main-main. Cinta sudah ada tapi negara punya aturan.
Untuk menjadikan Alo anak secara sah, ada berkas, ada sidang, ada verifikasi, ada pembuktian. Dan salah satu syaratnya, ” mereka harus menjadi keluarga yang utuh terlebih dahulu “.
Dunia bilang “Ribet ya?”
Tapi hati mereka menjawab “Kalau untuk Alo, kami sanggup.”
“Jadi, perjalanan ini bukan hanya tentang membawa Alo dari Papua ke tempat yang baru. Ini juga tentang mempersiapkan diri kami untuk menjadi keluarga yang benar-benar siap menerimanya,” ujarnya.
Bayangkan, ada orang yang rela menikah, bukan hanya karena cinta antar dua orang dewasa… Tapi karena ada satu anak yang sedang menunggu kepastian “Aku punya rumah.” Bukankah itu cinta yang paling dewasa?
Pasti ada capeknya. Ada malam-malam bertanya “bisakah kita?”
Ada biaya yang harus diputar. Ada waktu yang harus dikorbankan.
Ada orang yang bertanya “ngapain sih repot-repot?”
Tapi setiap kali melihat Alo tertidur pulas, setiap kali melihat Alo berangkat sekolah dengan seragam rapi, semua lelah itu lunas.
“Semoga semua proses panjang ini menjadi jalan terbaik untuk Alo. Tidak harus selalu mudah, yang penting kami terus berjalan dan tidak berhenti memperjuangkannya,”
Di akhir tulisan, ada pesan yang ditulis bukan dengan tinta, tapi dengan hati
“Semangat ya, anakku ❤️
Kamu mungkin datang dari jauh. Tapi kamu sudah sedekat doa kami setiap malam.
Dari seorang adik asuh…
Semoga suatu hari nanti, secara sah, kamu menjadi anak dalam keluarga kami.
Dan nama kamu tertulis bukan hanya di KK, tapi juga di hati kami selamanya.”
Dunia sekarang berisik dengan “self love” dan “healing”.
Tapi Tisantro dan Alo mengajari kita arti “love” yang sesungguhnya:
” Love adalah memilih tinggal. Love adalah memilih berjuang. Love adalah memilih bertanggung jawab,”.
Kamu tidak harus jadi sultan untuk mengubah hidup seseorang.
Kamu tidak harus menunggu sempurna untuk memulai kebaikan.
Kadang, yang dibutuhkan dunia hanyalah satu orang yang bilang :
“Sini, aku temani kamu bertumbuh.”
Keluarga bukan ditentukan oleh darah.
Keluarga ditentukan oleh siapa yang tidak pernah melepaskan tanganmu, bahkan saat prosesnya panjang dan melelahkan.
Untuk Alo : Teruslah bermimpi besar ya nak.
Untuk Tisantro : Terimakasih sudah mengingatkan kami, bahwa kemanusiaan masih hidup.
Untuk kita : Siapa tahu, Alo berikutnya sedang menunggu kita.
Diakhir kata penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Danyonif 126/KC, Letkol. Inf. M.S Yahya Ginting yang telah memfasilitasi pertemuan dengan Sertu Tisantro Sitanggang ( Bapa Alo ) seorang prajurit yang berhati lembut yang bisa menjadi inspirasi bagi anak muda lainnya. (Lia Hambali)


































