Oleh : Pengamat Ekonomi Pertanian : Sony Sunarko S. S.Sos, S.H, M.H
Jakarta, AgaraNews.Net – Siapa sangka limbah tempurung kelapa yang dulu dianggap tak bernilai, kini menjadi komoditas ekspor berkualitas tinggi yang dicari pasar dunia. Briket tempurung kelapa Nusantara perlahan membuktikan diri sebagai penyangga ekonomi kerakyatan, terutama bagi pelaku UKM dan petani di daerah penghasil kelapa.
Pengamat Ekonomi Pertanian Sony Sunarko http://S.Sos., S.H., M.H. menyebut ini sebagai terobosan ekonomi yang selama ini luput dari perhitungan.
“Limbah tempurung kelapa Nusantara Indonesia eksis di pasar dunia dalam bentuk briket berkualitas tinggi. Bahan bakunya berasal dari limbah buah kelapa pilihan, diolah menjadi arang yang dikirim ke Timur Tengah, Eropa, hingga Asia,” ujarnya.
Pasokan bahan baku briket berasal dari pulau-pulau penghasil kelapa terbaik Indonesia. Daerah seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Maluku Tengah, Maluku Utara, NTT, NTB, hingga Sumatra menjadi lumbung tempurung kelapa berkualitas.
Kunci keunggulannya ada pada usia buah kelapa saat dipanen, sekitar 4 bulan, yang menghasilkan tempurung padat dengan kadar karbon tinggi. Struktur tanah Nusantara yang subur membuat kelapa Indonesia menjadi favorit dunia.
Tak hanya briket, kelapa Nusantara juga diolah menjadi produk pilihan lain seperti tepung kelapa DC, CNO, air kelapa, bungkil, dan turunannya. Semua produk berjenis food grade dan diekspor ke China, Eropa, dan Timur Tengah. Menariknya, ekspor besar-besaran ini tidak mengganggu stok dalam negeri.
Bagi petani, keberadaan industri briket menjadi angin segar. Limbah tempurung yang dulu dibuang kini memiliki nilai ekonomi dan membantu meningkatkan pendapatan keluarga petani.
“Petani sangat terbantu dengan adanya limbah tempurung kelapa yang diolah menjadi briket berkualitas ekspor. Di daerah, penghasilan pertanian sangat bergantung pada hasil bumi, dan kelapa mendominasi kebutuhan sehari-hari meskipun ada pala dan cengkeh,” jelas Sony.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk bersinergi membangun perekonomian berbasis pertanian. Menurutnya, ini sangat menguntungkan di saat banyak usaha lain masih bergantung pada barang impor.
Pasar briket Indonesia kini menembus Timur Tengah, Eropa, dan Asia. Keunggulan produk ini adalah tahan terhadap gejolak geopolitik.
“Briket tidak terdampak perang Iran-AS. Ekonomi Indonesia tetap jalan karena produk yang dihasilkan semua diekspor,” kata Sony.
Karena itu, pemerintah diminta lebih memperhatikan UKM pengrajin dan pengusaha briket. Dukungan berupa akses pasar, permodalan, dan pelatihan akan memperluas jangkauan pasar dan membangkitkan ekonomi kerakyatan di daerah.
Dari limbah yang terlupakan, briket tempurung kelapa kini menjadi bukti bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh kuat dari desa, dari hasil bumi, dan dari tangan-tangan pengrajin lokal yang gigih.(Lia Hambali)
































