Kutacane – agaranews.net// Kepedulian terhadap kesejahteraan dan pembinaan muallaf menjadi perhatian serius Sekretaris Komisi VII DPRA dari Fraksi Partai Aceh, Yahdi Hasan Ramud. Dalam kegiatan Pengarahan dan Penyaluran Bantuan Mustahiq Muallaf Baru Tahun 2026 yang digelar Baitul Mal Aceh di Kabupaten Aceh Tenggara, Kamis (11/6/2026), Yahdi menyampaikan gagasan strategis untuk memperkuat layanan dan pendampingan bagi para muallaf di daerah tersebut.
Suasana haru dan penuh kebersamaan mewarnai kegiatan yang mempertemukan puluhan muallaf dengan jajaran Baitul Mal Aceh dan para pemangku kepentingan. Di tengah penyaluran bantuan, Yahdi mengingatkan bahwa perjalanan seorang muallaf tidak berhenti setelah mengucapkan syahadat atau menerima bantuan awal.
Menurutnya, para muallaf membutuhkan perhatian yang lebih luas, mulai dari pembinaan keagamaan, pendampingan sosial, hingga dukungan ekonomi agar dapat menjalani kehidupan yang lebih baik dan mandiri.
“Bantuan yang diberikan hari ini tentu sangat berarti. Namun yang lebih penting adalah bagaimana negara dan lembaga terkait hadir secara berkelanjutan untuk mendampingi saudara-saudara kita para muallaf,” kata Yahdi di hadapan peserta kegiatan.
Politisi Partai Aceh itu kemudian mengusulkan agar Baitul Mal Aceh membangun kantor layanan atau pusat pembinaan muallaf khusus di Aceh Tenggara. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut sangat dibutuhkan sebagai pusat koordinasi program pembinaan, konsultasi keagamaan, pemberdayaan ekonomi, hingga penyaluran bantuan yang lebih terarah.
Ia menilai Aceh Tenggara memiliki posisi strategis karena merupakan daerah dengan tingkat keberagaman masyarakat yang cukup tinggi. Karena itu, kehadiran pusat pembinaan muallaf dinilai dapat menjadi langkah nyata dalam memperkuat pelayanan kepada para muallaf yang tersebar di berbagai kecamatan.
“Jangan sampai setelah menerima bantuan, para muallaf berjalan sendiri tanpa pendampingan. Mereka membutuhkan tempat untuk belajar, berkonsultasi, dan mendapatkan penguatan agar semakin mantap menjalankan kehidupan barunya,” ujarnya.
Usulan tersebut mendapat respons positif dari pihak Baitul Mal Aceh yang hadir dalam kegiatan tersebut. Yahdi berharap gagasan itu dapat segera ditindaklanjuti menjadi program nyata yang memberikan manfaat jangka panjang bagi para muallaf.
Baginya, keberhasilan pembinaan muallaf tidak hanya diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk hidup mandiri, berdaya saing, dan merasa menjadi bagian utuh dari masyarakat.
“Ini bukan hanya tentang bantuan sosial, tetapi tentang membangun harapan, memberikan pendampingan, dan memastikan saudara-saudara muallaf kita memperoleh perhatian yang layak,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara Baitul Mal Aceh, Pemerintah Aceh, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat, Yahdi optimistis program pembinaan muallaf yang lebih terstruktur dapat diwujudkan di Aceh Tenggara.
Ia berharap langkah tersebut menjadi fondasi kuat dalam mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya para muallaf yang sedang menata kehidupan baru mereka.
“Semoga ikhtiar ini menjadi jalan kebaikan bagi kita semua, serta menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi para muallaf di Aceh Tenggara,” pungkasnya.
Ady
































