Aceh Timur – Agaranews.net
Tokoh masyarakat dan Tokoh Pemuda Aceh Timur dan sejumlah masyarakat angkat bicara mengenai (MBG)
“Wacana pengalihan pengelolaan SPPG ke kantin sekolah justru dikhawatirkan menimbulkan masalah baru. Yang dibutuhkan adalah evaluasi dan pembenahan, agar sistem yang sudah berjalan semakin efektif,” ujar salah satu tokoh Pemuda Aceh Timur Edi Putra kepada awak Media, Sabtu (12/9/2026), di Peureulak.
Pengalihan pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke kantin sekolah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sorotan tajam dari sejumlah pihak hal ini wajar agar tidak terjadi hal hal yang tak dingin kan, Program ini telah berjalan baik Jaganlah gara- gara segelintir oknum Progam (MBG) ini menjadi ribut hal inilah yang kita cegah bersama
Sorotan demi sorotan, Salah satunya datang dari Tokoh Pemuda Aceh Timur yang kerap di panggil Edi Putra atau Keuchik Pertamina yang berdomisili di Kecamatan Ranto Peureulk, Kabupaten Aceh Timur. Ia menilai wacana pengalihan pengelolaan SPPG ke kantin sekolah oleh Badan Gizi Nasional (BGN) perlu dikaji secara mendalam dan dinilai belum menjadi langkah yang tepat untuk menyelesaikan persoalan pelaksanaan program tersebut.
Menurut Edi, pengalihan pengelolaan SPPG ke kantin sekolah justru berpotensi menimbulkan persoalan baru. Ia menilai langkah yang lebih diperlukan adalah melakukan evaluasi dan pembenahan terhadap sistem yang sudah berjalan agar pelaksanaan MBG dapat semakin efektif.
Ia menjelaskan, pelaksanaan MBG melalui kantin sekolah perlu dikaji secara menyeluruh. Sejumlah aspek yang menurutnya perlu diperhatikan antara lain kebersihan dan lingkungan, kesiapan manajemen, serta fasilitas yang diperlukan apabila pengelolaan program dialihkan ke sekolah.
Menurut Edi, pengalihan tersebut juga berpotensi membutuhkan pembangunan dan penyiapan fasilitas dari awal.
Selain itu, ia menilai apabila pelaksanaan program terlalu terpusat di sekolah, cakupan penerima manfaat berpotensi menjadi lebih terbatas. Padahal, menurutnya, MBG pada prinsipnya merupakan program pemenuhan gizi masyarakat yang penerima manfaatnya tidak hanya anak sekolah.
“Jangan sampai karena ingin menyelesaikan persoalan di satu sisi, justru penerima manfaat di sisi lain menjadi terbatas. MBG harus dilihat sebagai program pemenuhan gizi masyarakat, bukan hanya program makanan untuk anak sekolah saja,” jelasnya.
Edi Putra yang juga merupakan perwakilan Yayasan Baitul Ilmi Alziziyah mencontohkan sejumlah kelompok yang menurutnya juga berhak memperoleh manfaat program sesuai dengan ketentuan BGN.
Kelompok tersebut antara lain santri di pesantren, ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta kelompok rentan lainnya.
Karena itu, Edi menilai keberadaan SPPG yang telah terbentuk dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas jangkauan program apabila dikelola dan diawasi dengan baik.
Menurutnya, melalui sistem yang terpusat dan terorganisir, penyediaan makanan dapat dikendalikan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan pangan, proses pengolahan, pemenuhan standar gizi, hingga distribusi kepada penerima manfaat.
“Kalau sistemnya diperbaiki dan pengawasan diperketat, SPPG bisa menjadi kekuatan utama MBG. Kualitas makanan dijaga, distribusi diperbaiki, dan penggunaan anggaran dibuat semakin transparan,” pungkas Edi Putra.


































