Catatan, AgaraNews.Net // Di barisan TNI, bintang di pundak adalah simbol tanggung jawab. Tapi tidak semua bintang mampu membuat hati rakyatnya hangat.
Brigjen TNI Dr. Agustatius Sitepu, S.Sos., M.Si., M.Han, Danrem 031/Wira Bima yang terlahir dari keluarga petani dibawah Lereng Gunung Sinabung adalah salah satu di antaranya.
Beliau adalah bukti bahwa seorang pemimpin bisa tegas di medan tugas, tapi tetap lembut di hati. Bisa tinggi jabatannya, tapi tetap membumi langkahnya.
Dalam dunia militer yang penuh hierarki, kesombongan sering jadi godaan. Tapi tidak bagi beliau.
Setiap bertemu warga, beliau menyapa lebih dulu. Senyumnya tidak dibuat-buat. Tegur sapa nya tulus, seperti anak kampung yang pulang ke rumah.
“Beliau itu tidak pernah memandang pangkat orang. Yang beliau lihat itu manusia nya,” ujar salah satu prajurit yang sudah lama berdinas di bawah komandonya.
Bagi masyarakat, terutama masyarakat Karo, kesederhanaan itu adalah warisan. Warisan dari tanah yang melahirkan beliau. Tanah yang mengajarkan, “Boleh tinggi terbang, tapi jangan lupa daratan.”
Kalau hanya hebat di medan tempur, mungkin biasa. Tapi Brigjen Agustatius Sitepu memilih untuk “serba bisa”.
Beliau bukan hanya seorang komandan.
1. Beliau adalah musisi. Gitar dan nada-nada yang beliau mainkan sering mengiringi acara bersama prajurit dan masyarakat. Musik jadi jembatan untuk mencairkan sekat antara TNI dan rakyat.
2. Beliau adalah pencipta lagu Lewat lirik dan nada, beliau menuangkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, dan nilai-nilai kemanusiaan. Lagu-lagunya bukan untuk panggung, tapi untuk hati.
3. Beliau adalah penulis. Pemikiran, pengalaman, dan renungan hidup dituangkannya dalam tulisan. Karena bagi beliau, seorang pemimpin juga harus bisa meninggalkan warisan pemikiran.
“TNI tidak hanya kuat karena senjata. TNI kuat karena bisa menyentuh hati rakyat dengan karya,” begitu kira-kira prinsip yang beliau pegang.
Sebut nama Agustatius Sitepu di Tanah Karo, maka yang muncul adalah rasa bangga. Bangga karena ada putra daerah yang mengharumkan nama.
Bangga karena ada Jenderal yang tidak lupa bahasanya, tidak lupa adatnya, tidak lupa akarnya.
Beliau membuktikan bahwa orang Karo bisa jadi apa saja. Bisa jadi prajurit, bisa jadi seniman, bisa jadi intelektual.
Dan yang paling penting “bisa tetap menjadi manusia “.
Bagi anak-anak muda Karo, beliau adalah cermin, bahwa sukses tidak harus membuat kita lupa daratan.
Bahwa hebat tidak harus membuat kita sombong.
Dengan gelar akademik Dr., S.Sos., M.Si., M.Han, beliau menunjukkan bahwa prajurit masa kini harus cerdas.
Dengan hobinya di musik dan menulis, beliau menunjukkan bahwa prajurit juga harus berbudaya.
Dengan sikap sederhananya, beliau menunjukkan bahwa prajurit harus berhati rakyat.
Itulah “Wira Bima ” Prajurit yang gagah berani, tapi juga bijaksana.
Di zaman sekarang, kita mudah menemukan orang hebat.
Tapi sulit menemukan orang hebat yang tetap rendah hati. Brigjen TNI Dr. Agustatius Sitepu, S.Sos., M.Si., M.Han adalah perpaduan langka itu.
Seorang Jenderal. Seorang Seniman. Seorang Penulis. Dan yang terpenting, “Seorang Manusia.”
Semoga beliau selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan keberkahan dalam memimpin. Dan semoga kisahnya terus menjadi bara semangat bagi kita semua
“Berkarya setinggi-tingginya, merendah sedalam-dalamnya.”
Itulah kesan penulis ketika melakukan kunjungan silaturahmi dengan Danrem 031//WB di Kantornya, pada Rabu 3/9/2026 sore, beliau tak pernah berubah, selalu ramah dan penuh kekeluargaan, terimakasih atas sambutannya Jenderal,..(Lia Hambali)


































