Rumah Persinggahan Bung Karno di Pengasingan Anggut Bengkulu : Saksi Bisu Revolusi di Kota Subuh

LIA HAMBALI

- Redaksi

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:12 WIB

50145 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Catatan, AgaraNews. Net // Di ujung Barat Pulau Sumatera, ada sebuah rumah panggung sederhana di kawasan Anggut, Bengkulu. Dindingnya dari papan, atapnya seng, dan halamannya teduh oleh pohon mangga. Bagi warga sekitar, itu dulu hanya rumah sewa biasa. Tapi bagi sejarah Indonesia, rumah itu adalah ruang lahirnya pemikiran besar : tempat Bung Karno diasingkan Belanda dari tahun 1938 hingga 1941.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Mengapa Bengkulu, Mengapa Anggut?

Setelah ditangkap Belanda pada 1933, Sukarno dipindah-pindah tempat pembuangan. Dari Ende, Flores, ia kemudian dibuang ke Bengkulu. Pemerintah kolonial memilih Bengkulu karena jauh dari pusat pergerakan nasional, sepi, dan dianggap bisa “mematikan” semangatnya.Di Bengkulu, Sukarno awalnya ditempatkan di rumah dinas Asisten Residen. Tapi karena dianggap terlalu dekat dengan pusat kota, ia dipindahkan ke rumah sewa milik seorang warga keturunan Arab bernama Hassan Din di Kampung Anggut. Rumah itu berada di pinggir kota, tenang, dekat masjid, dan dikelilingi kebun.

2. Hidup Sederhana, Pikiran yang Tidak Pernah Diam

Di Anggut, Bung Karno hidup sangat sederhana. Ia tinggal bersama istrinya, Fatmawati, yang ia nikahi di Bengkulu pada 1943. Sehari-hari ia mengajar mengaji, memberi pelajaran politik diam-diam kepada pemuda Bengkulu, dan menulis.Rumah itu menjadi “kampus kecil” bagi pemuda-pemuda Bengkulu seperti Hasan Din, M. Thahir, dan Adam Malik yang sering datang diam-diam. Di ruang tamu yang sempit itu, Bung Karno bicara tentang nasionalisme, marhaenisme, dan kemerdekaan. Tidak ada perpustakaan besar, tapi pikirannya tajam. Ia membaca buku kiriman, koran lama, dan menulis dengan pena di atas meja kayu.

3. Lahirnya “Bendera Sang Saka” dan Cinta di Bengkulu

Rumah Anggut bukan hanya tempat pengasingan politik. Di sinilah kisah cinta Sukarno dan Fatmawati bersemi. Fatmawati, gadis Bengkulu 19 tahun, sering datang membantu urusan rumah tangga. Dari perkenalan itu lahir pernikahan yang kelak melahirkan Guntur, Megawati, dan anak-anak lainnya.Yang lebih penting, di rumah inilah Fatmawati menjahit bendera Merah Putih pertama yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945. Kainnya diambil dari seprai dan kain merah yang ada di rumah. Jadi, Bendera Pusaka lahir dari rumah pengasingan di Anggut.

4. Rumah yang Kini Jadi Museum

Setelah Indonesia merdeka, rumah itu dibeli pemerintah dan dijadikan Rumah Pengasingan Bung Karno. Lokasinya di Jl. Anggut Atas, Kelurahan Anggut Atas, Kota Bengkulu. Sekarang rumah itu dirawat sebagai museum.Masuk ke dalam, suasananya masih sama seperti dulu. Ada meja tulis kayu, ranjang besi, Al-Qur’an pemberian Bung Karno, mesin jahit Fatmawati, dan foto-foto lama. Di dinding tergantung tulisan tangan Bung Karno. Rasanya seperti waktu berhenti di tahun 1940.

Setiap tahun, ratusan pelajar dan wisatawan datang. Mereka tidak hanya melihat barang, tapi merasakan bagaimana seorang tahanan politik bisa mengubah kesepian menjadi energi untuk memerdekakan bangsanya.

5. Makna di Balik Dinding Papan

Rumah Anggut mengajarkan satu hal: sejarah besar bisa lahir dari tempat yang paling sederhana. Belanda ingin membuang Sukarno ke pinggiran agar dilupakan. Tapi justru di pinggiran itu, ia menulis, mengajar, jatuh cinta, dan menyiapkan generasi yang kelak memproklamasikan kemerdekaan.Bagi warga Bengkulu, rumah itu adalah kebanggaan. Bagi Indonesia, ia pengingat bahwa kemerdekaan tidak jatuh dari langit. Ia ditempa di ruang sempit, di atas meja kayu, di bawah atap seng, sambil menunggu subuh datang.

Kalau kamu ke Bengkulu, sempatkan mampir. Duduk sebentar di beranda rumah itu. Di situlah kamu bisa membayangkan bagaimana bisik-bisik tentang republik pernah bergema di kota yang sunyi.(Lia Hambali)

Berita Terkait

Puncak Semarak HUT Ke-81 RI, Dandim 0209/LB dan Forkopimda Labusel Pererat Silaturahmi di Malam Resepsi Kenegaraan
Sukseskan Rangkaian HUT Ke-81 RI, Kasdim 0209/LB Pererat Sinergi di Malam Resepsi Kenegaraan Pemkab Labuhanbatu
Kasdim 0209/LB Apresiasi Kesuksesan Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI di Labuhanbatu
Warga Cluster Taman Kota Toraja Meriahkan HUT RI Ke-81, Kompak Jaga Keharmonisan dan Hormati Jasa Pahlawan 
SMK Negeri l Hilimagai Terima Bantuan Rehabilitasi, Kasek Ucapkan Terimakasih Kepada Pemerintah Pusat dan Daerah
Dhani Sitepu Resmi Nahkodai SAPMA LMP Karo, Siap Kibarkan Panji-Panji LMP
Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia Ke 81 Polres Sergai 
Gelorakan Semangat Merah Putih, Kapolres Sergai Hadiri Upacara HUT RI Ke-81

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Puncak Semarak HUT Ke-81 RI, Dandim 0209/LB dan Forkopimda Labusel Pererat Silaturahmi di Malam Resepsi Kenegaraan

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:07 WIB

Sukseskan Rangkaian HUT Ke-81 RI, Kasdim 0209/LB Pererat Sinergi di Malam Resepsi Kenegaraan Pemkab Labuhanbatu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:02 WIB

Kasdim 0209/LB Apresiasi Kesuksesan Upacara Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI di Labuhanbatu

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:54 WIB

Warga Cluster Taman Kota Toraja Meriahkan HUT RI Ke-81, Kompak Jaga Keharmonisan dan Hormati Jasa Pahlawan 

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:47 WIB

SMK Negeri l Hilimagai Terima Bantuan Rehabilitasi, Kasek Ucapkan Terimakasih Kepada Pemerintah Pusat dan Daerah

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:39 WIB

Upacara Peringatan HUT Republik Indonesia Ke 81 Polres Sergai 

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:35 WIB

Gelorakan Semangat Merah Putih, Kapolres Sergai Hadiri Upacara HUT RI Ke-81

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:27 WIB

Sat Samapta Polres Tebingtinggi Patroli Perintis Presisi Antisipasi Kejahatan Jalanan 

Berita Terbaru