Konsistensi Wujud Nyata Dari Cinta Yang Tulus dan Ikhlas Malawan Sikap Munafik dan Penghianatan

LIA HAMBALI

- Redaksi

Rabu, 13 Mei 2026 - 21:38 WIB

5032 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Jacob Ereste

Opini, AgaraNews. Net // Konsistensi itu penting, tapi lebih penting lagi adalah menjaga — merumat dan meruat sikap dalam sifat yang disiplin. Itulah sebabnya dalam berbagai bidang dan sektor kehidupan disiplin itu begitu penting untuk membentengi konsistensi diri dalam membentuk karakter yang kuat dan kukuh dari berbagai terpaan dan godaan hidup yang berdimensi duniawi. Maka itu, salah satu upaya terbaik untuk menjaga disiplin diri itu melalui laku spiritual yang sungguh-sungguh dinikmati tanpa hirau pada capaian yang harus digapai.

Yang terpenting dari laku spiritual adalah kemampuan menikmati dan menghayati laku yang dijalani sebagai nikmat penghantar menuju kedekatan diri pada Tuhan. Sehingga peran hati dan rasa dalam olah spiritual menjadi pokok utama, seperti sikap tafakur penuh konsentrasi menjadi bagian yang perlu dilakukan secara rutin dan terjadwal dengan baik dan ajek. esensinya, tak hanya untuk lebih mengenal diri sendiri dalam berbagai sikap dan sifat, karakter, temperamen hingga ambisi serta sikap egoistis yang harus dapat dikendalikan sebelum keinginan untuk dapat mengendalikan orang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelaksanaan ibadah — sholat — yang diwujudkan dalam gerak pisik serta terjadwal secara rutin — tepat waktunya, adalah bagian dari tuntunan Tuhan untuk membangun sikap disiplin manusia, agar tidak sekedar khusuk dalam menunaikan ibadah — sholat — seperti yang dimaksud, tapi juga melatih ingatan untuk melafazkan beberapa ayat dan do’a serta puja-puji yang akan dikirimkan ke langit.

Pada akhirnya, dari konsistensi yang terjaga dan terpelihara dengan baik, dapat menjadi penuntun karakter yang tangguh, setia untuk tidak bersikap mencla-mencle, seperti hewan yang patuh kepada majikan hanya karena selalu diberi makan. Padahal, kesetiaan yang sejati itu tanpa pamrih, maka itu perlu dijaga dan dipelihara sebagai sikap yang mulia, baik oleh si pelaku maupun siapa saja pihak lain yang dapat menikmati ketulusan serta kejujuran yang semakin langka dilakukan oleh banyak orang. Terutama dalam wilayah politik yang menganut ideologi tiada ada musuh yang abadi, sebab yang ada hanyalah kepentingan yang utama. Bahkan ada pula istilah “tiada ada makan siang yang gratis” seperti yang tertanam dalam benak politikus klas tiga pada umumnya, seperti yang banyak bertaburan di Indonesia.

Atas dasar itulah konsistensi dalam habitat politik sungguh sulit diharap, karena akan selalu meliuk mengikuti arah angin berhembus. Istilah bajing loncat dalam ranah politik seperti tradisi dan budaya bawaan yang sangat sulit untuk diubah. Oleh sebab itu tiada musuh dan kawan yang abadi kecuali hanya kepentingan yang diutamakan. Padahal, konsistensi itu tumbuh dan tersemai di taman kejujuran, keikhlasan getaran rasa cinta yang tulus, tiada pamrih, kecuali sikap konsistensi dalam kadar yang sama, setara. Oleh karena itu, tiada mungkin adanya lahan untuk bertumbuh sifat dan sikap khianat, memotong dalam lipatan, atau bahkan untuk saling menjerumuskan masuk dalan perangkap harimau yang mengerikan.

Jadi dasar tegaknya konsistensi itu di atas fondasi cinta, kesetiaan, kasih sayang, saling melindungi dan melakukan upaya penjagaan dari segenap gangguan dan ancaman yang bisa mencelakakan antara yang satu dengan yang lain. Karena itu, sifat dan sikap konsistensi adalah dalam wujud nyata yang tak perlu diucapkan. Sebab perjuangan, seperti kata dramawan WS. Rendra adalah pelaksanaan kata-kata yang tak perlu diucapkan.

Itulah sebabnya pilihan pilihan sikap lebih cenderung dipastikan untuk mereka — kawan atau pasangan yang jujur — ketimbang mereka yang jenius tapi tidak memiliki etika dan bermoral. Karena di dalam pilihan seperti itu mengandung nilai spiritualitas serta dimensi religiusitas manusia terhadap Tuhan.(Lia Hambali)

Banten, 13 Mei 2026

Berita Terkait

Kajari Karo Bersama Forkompinda Hadiri Upacara Pemberian Remisi Umum HUT RI Ke-81
Kajari Karo Bersama Forkompinda Sambut Penerimaan Peserta Pawai HUT RI Ke-81 di Kabanjahe 
Kajari Karo Beserta Jajaran Ikuti Upacara Penurunan Bendera HUT RI Ke- 81
Kasi Intel Kejari Karo Hadiri Ramah Tamah Bersama Pejuang ’45, Dengarkan Langsung Cerita Perjuangan 
Bupati Karo Bersama Forkopimda Terima Pawai Defile SMP dan SMA dalam Rangka HUT ke-81 RI
Lautan Manusia Padati Kota Kabanjahe, Masyarakat Karo Bersuka Ria Sambut HUT RI Ke-81
Bupati Karo Bersama Forkopimda Terima Pawai Defile SMP dan SMA dalam Rangka HUT ke-81 RI
Bupati Karo Ikuti Upacara Serenade dan Penurunan Bendera HUT ke-81 RI

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:14 WIB

Kajari Karo Bersama Forkompinda Hadiri Upacara Pemberian Remisi Umum HUT RI Ke-81

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:07 WIB

Kajari Karo Bersama Forkompinda Sambut Penerimaan Peserta Pawai HUT RI Ke-81 di Kabanjahe 

Selasa, 18 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Kajari Karo Beserta Jajaran Ikuti Upacara Penurunan Bendera HUT RI Ke- 81

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:53 WIB

Kasi Intel Kejari Karo Hadiri Ramah Tamah Bersama Pejuang ’45, Dengarkan Langsung Cerita Perjuangan 

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Bupati Karo Bersama Forkopimda Terima Pawai Defile SMP dan SMA dalam Rangka HUT ke-81 RI

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:31 WIB

Bupati Karo Bersama Forkopimda Terima Pawai Defile SMP dan SMA dalam Rangka HUT ke-81 RI

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:27 WIB

Bupati Karo Ikuti Upacara Serenade dan Penurunan Bendera HUT ke-81 RI

Selasa, 18 Agustus 2026 - 12:24 WIB

Peringati HUT ke-81 RI, Pemkab Karo Serahkan Trofi, Piala, dan Piagam Kepada Para Pemenang Lomba di Stadion Samura Kabanjahe

Berita Terbaru