Kutacane – agaranews.net// Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan terlihat jelas pada pelaksanaan gotong royong massal dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Kabupaten Aceh Tenggara, Jumat pagi. Kegiatan yang mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” itu melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), unsur Forkopimda, pelajar, komunitas lingkungan, serta masyarakat dari berbagai kalangan.
Sejak matahari mulai menyinari Kota Kutacane, ratusan peserta telah berkumpul di titik-titik yang telah ditentukan. Dengan membawa peralatan kebersihan seperti sapu, cangkul, parang, dan kantong sampah, mereka bergerak bersama membersihkan lingkungan, saluran drainase, fasilitas umum, hingga kawasan yang selama ini menjadi perhatian terkait persoalan sampah.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Aceh Tenggara, dr. Heri Al Hilal. Kehadiran orang nomor dua di Aceh Tenggara itu menjadi penyemangat tersendiri bagi peserta yang terlibat dalam aksi bersih-bersih lingkungan tersebut.
Di sela kegiatan, Wakil Bupati menegaskan bahwa peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Menurutnya, tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan lingkungan.
“Persoalan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Menjaga kebersihan, mengurangi sampah plastik, serta merawat alam merupakan langkah sederhana yang memiliki dampak besar bagi masa depan daerah kita,” ujarnya.
Suasana gotong royong berlangsung penuh keakraban. Para ASN tampak berbaur dengan masyarakat tanpa sekat, bekerja sama membersihkan berbagai lokasi. Tidak sedikit warga yang turut memberikan dukungan dengan menyediakan minuman dan makanan ringan bagi para peserta yang bekerja sejak pagi hari.
Di beberapa titik kegiatan, tumpukan sampah yang sebelumnya mengganggu keindahan lingkungan berhasil diangkut dan dibersihkan. Saluran air yang tersumbat juga dibuka kembali guna mencegah genangan saat musim hujan tiba. Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong masih hidup dan menjadi kekuatan sosial yang penting dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Tenggara mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
Menurutnya, perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Cuaca ekstrem, meningkatnya suhu udara, serta perubahan pola musim menjadi pengingat bahwa tindakan nyata harus dilakukan mulai dari tingkat lokal.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi. Menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menanam pohon di lingkungan sekitar,” katanya.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk memperkuat komitmen dalam mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Selain menjaga kebersihan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
Semangat yang tercermin dalam gotong royong massal tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Dengan kerja sama yang kuat, berbagai persoalan lingkungan dapat diatasi secara bertahap dan berkelanjutan.
Melalui tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan terus meningkat. Sebab, lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari bukan hanya menjadi warisan bagi generasi mendatang, tetapi juga fondasi penting bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan.
Gotong royong massal yang berlangsung pagi itu akhirnya tidak sekadar menjadi kegiatan rutin tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi simbol kebersamaan, kepedulian, dan tekad bersama untuk menjaga bumi dari ancaman kerusakan lingkungan. Dari Aceh Tenggara, pesan itu kembali digaungkan: menjaga alam adalah tanggung jawab bersama, dan saatnya bekerja untuk iklim dimulai dari tindakan nyata hari ini. Ady
































