Balige/Toba – Selasa, 9 Juni 2026, AgaraNews. Net // Ada yang pulang cuma bawa oleh-oleh. Ada yang pulang bawa berkah. Hari ini, tanah Hutabulu Mejan bergetar haru. KASAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc pulang. Bukan sebagai Jenderal Bintang Empat. Tapi sebagai ” Anak Toba, Cucu Ompu Sobosihon Boru Sihotang”, yang rindu kampungnya.
Bersama Ny. Uli Maruli Simanjuntak, Ketua Umum Persit, beliau melangkah pelan ke Tugu leluhur. Disusul langkahnya langkah para prajurit yang siap membangun. Itu Toba, hormat ke leluhur dulu, baru kerja untuk anak cucu.
Pagi itu, hening, hanya angin Danau Toba yang berbisik di antara batu nisan “Tugu Ompu Sobosihon Boru Sihotang’. Jenderal Maruli menunduk, menempelkan dahi ke batu tugu. Tak ada kamera yang bisa merekam doa beliau. Tapi semua warga yang lihat tahu, itu doa anak yang tak lupa dari mana dia berasal.
Pulang ke akar biar langkah ke depan lebih kokoh, bisik seorang nenek tua, Ibot Boru Simanjuntak 78 tahun, sambil usap air mata.
“Jenderal tertinggi pun sujud di tugu ompunya. Jadi kami warga kecil malu kalau lupa daratan,” lanjutnya.
Momen itu mengingatkan semua orang: setinggi apapun pangkat, sedalam apapun laut, asalmu tetap di Balige.
Selesai berdoa, Jenderal Maruli tidak masuk mobil dinas. Beliau langsung cek titik-titik Bakti TNI AD untuk Rakyat.
Air Bersih, Bor sumur di desa yang 20 tahun terakhir rebutan air. Ibu-ibu yang biasa jalan 2 km bawa ember, hari ini lihat mesin bor TNI masuk ke kampung. “Mandi, cuci, minum” kata KASAD. Tapi beliau tambah satu lagi yang bikin petani nangis, “air bersih untuk pengairan pertanian”.
Artinya, padi di sawah Balige tidak akan haus lagi. Masa depan anak petani Toba jadi lebih pasti.
Alat berat TNI ratakan jalan desa yang dulu cuma bisa dilalui kuda. Rumah Namboru yang atapnya bocor 10 tahun, kini dapat giliran RTLH. Rumah ibadah yang tiangnya lapuk, diperkuat lagi.
Ini yang paling bikin geger. Di depan warga, Jenderal Maruli pegang dada dan mengatakan dengan tegas,”Saya sudah pegang dana dari Bapak Presiden untuk bangun seluruh jembatan sederhana di Indonesia. Kalau jembatannya masih 20 meter, langsung lapor ke Kodim. Akan langsung dibangun. Kalau bisa gotong royong, lebih baik lagi.”
Spontan warga tepuk tangan. Ada bapak-bapak dari desa seberang sungai langsung catat nomor Kodim 0210/TU di telapak tangan. Karena bagi mereka, jembatan 20 meter, anaknya bisa sekolah, istrinya bisa berobat, hasil kopinya bisa laku.
Sementara, Bupati Toba Effendi Sintong Panangian Napitupulu yang mendampingi, matanya basah.
“Pak KASAD, terimakasih sudah pulang, terima lkasih sudah bawa negara sampai ke desa-desa kami. Program ini wujud nyata bahwa TNI AD lahir dari rakyat, untuk rakyat,” ujarnya.
Bagi Pemkab Toba, medan berat, APBD terbatas. Tapi dengan sinergi TNI AD, masalah air, jalan, jembatan yang dulu terasa “mustahil”, kini ada yang pegang langsung yakni KASAD, Jenderal Maruli Simanjuntak yang merupakan putra Toba asli.
Sore menjelang pulang, Jenderal Maruli berdiri di bibir Danau Toba. Angin menerbangkan peci beliau.
“Banyak program yang akan dikerjakan. TNI AD siap kerja untuk mandi, minum, dan masa depan petani kita,” katanya.
Kalimat sederhana, tapi mengena. Karena selama ini warga Toba selalu disuruh “kuat”. Hari ini, negara lewat TNI bilang, “Kami yang bantu kamu kuat”.
Dari Tugu Ompu Sobosihon ke sumur bor warga. Dari doa leluhur ke semen untuk jembatan. Itulah Balige. Itulah TNI.
Pulang tidak sekadar pulang. Pulang untuk membangun.(Lia Hambali)
































