Tanah Karo – 9 Juni 2026, AgaraNews. Net// Janji tinggal janji, kesepakatan tinggal tulisan
Empat hari setelah demo besar di Kantor Bupati Karo 5 Juni lalu, Air Panas Doulu kembali mendidih. Bukan karena belerangnya. Tapi karena amarah warga yang merasa dikhianati.
Padahal saat itu sudah sepakat, pengutipan Retribusi masuk wisata Air Panas Doulu dihentikan sementara. Tapi hari ini 9/6, oknum pengutip masih berdiri di Pos. Tangan masih minta uang, padahal mulut pejabat sudah bilang “stop”…!!!
Tanggal 5 Juni, ratusan warga Karo tumpah ke Kantor Bupati. Teriakan mereka satu, cabut mandat dan tolak pungutan Retribusi di Doulu. Akhirnya lahir kesepakatan bersama, Retribusi dihentikan sementara.
Tapi 9 Juni hari ini, fakta menampar, sumber lokal dan keluhan warga viral, “pengutipan masih berjalan”.
“Omongan Pemkab Karo dianggap kumur-kumur, kesepakatan tanggal 5 Juni waktu demo, pengutipan Retribusi masuk Doulu dihentikan. Ini kok ada yang ngutip?” tulis warga yang videonya beredar luas di media sosial.
Satu kalimat itu, runtuhnya kepercayaan, “Kami Dikhianati Sistem Hukum Sendiri”, yang bikin resah bukan cuma pungutannya, tapi “pembiaran “.
Warga menyayangkan sikap pasif Pemkab Karo dan pihak Kepolisian, tidak ada penertiban. Tidak ada tindakan tegas di Pos masuk, oknum tetap berdiri, karcis tetap keluar, uang tetap masuk.
“Marilah kita tanya sama rumput yang bergoyang,” sindir warga. Kalimat pasrah yang lebih sakit dari makian. Artinya, sudah tidak tahu lagi mau mengadu ke mana.
Bagi warga Karo, ini bukan soal 10 ribu atau 20 ribu, ini soal “harga diri “, soal wibawa Pemerintah Daerah. Kalau kesepakatan hasil demo saja dilanggar, lalu warga harus percaya sama apa dan pada siapa,..???
Doulu Terancam Wisatawan Kabur, Gesekan Mengintai. Dampaknya langsung terasa, citra pariwisata Karo dipertaruhkan.
Wisatawan dari Medan, Binjai, bahkan Malaysia yang datang jauh-jauh ke Doulu sekarang bingung. Aturannya apa? Bayar atau tidak? Legal atau liar?
Rasa nyaman hilang, diganti was-was di pintu masuk, kalau ini dibiarkan, wisatawan kapok. UMKM sekitar Doulu yang jual jagung bakar, ulos, telur rebus ikut mati.
Lebih bahaya lagi, “gesekan fisik “, warga yang pegang kesepakatan 5 Juni vs oknum pengutip yang ngotot. Tinggal tunggu waktu, kalau Pemkab dan Polres Tanah Karo masih diam.
Warga menuntut Pemkab Karo, DPRD Karo dan Stakeholder lainnya turun tangan, jangan ” Turun Tanda Tangan Saja”.
Hingga berita ini turun, desakan warga satu, ” Bupati Karo dan Kapolres Tanah Karo turun langsung ke Doulu.
Bukan rapat lagi, bukan MoU lagi, tapi tindak tegas di lapangan. Tangkap oknum pengutip liar. Segel Pos Retribusi. Pasang pengumuman jelas “GRATIS ” sesuai kesepakatan.
“Jangan sekadar bikin kesepakatan di atas kertas. Buktikan di lapangan,” desak beberapa warga Doulu dan Semangat Gunung.
Air Panas Doulu itu anugerah Tuhan untuk Karo. Belerangnya menyembuhkan. Tapi kalau dikelola dengan “kumur-kumur”, yang sembuh cuma kantong oknum,lukanya jadi luka rakyat.
Pemkab Karo, Polres Tanah Karo, ini ujian. Mau jadi pemerintah yang ditepati janjinya, atau jadi bahan sindiran “rumput yang bergoyang”?(Lia Hambali)
































