Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh Dari Sosok Prof. Dr. Sri Edi Swasono MPIA

LIA HAMBALI

- Redaksi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 19:40 WIB

5018 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Jacob Ereste

(Bagian Kedua)

Opini, AgaraNews. Net // Anak-anak negeri menyingkirkan kearifan Ibu Pertiwi, lalu kembali menghamba ke-Inlanderan lagi. Oleh sebab itu, kata Prof. Sri Edi Swasono dalam puisinya ini : kita kalah dan menyerah dalam perang peradaban. Sehingga dia merasa berhak untuk bertanya : mana keperkasaan Patih Gajah Mada, mana kedigdayaan Untung Suropati, mana kemandirian Malahayati, dan Cut Nya’ Dhien……

Begitu mudahnya pendidikan nasional Indonesia ditelan keminderan….. Lalu sambil memelihara status-quo perkoncoan nepo-nepo. Kalau Lester Thurow menulis Zero Sum Society , saya akan menulis The Suicidak Society , biar Ki. Hajar kerso mungu. Demang-demang anak negeri gemregah lagi.

Begitulah, puisi yang ditulis Prof. Sri Edi Swasono sebagai catatan akhir tahun 2012. Dan karya puisi berikutnya “Asah, Asih Asuh” Sang Piningit yang termuat pada halaman 110 sebagai bagian dari karyanya yang ke 30, adalah puisi untuk Kwik Kian Gie, semasa di Bappenas yang ditulis di Surakarta, 16 September 2003.

Buku bunga rampai “Asah, Asih Asuh” yang menghimpun pandangan, pemikiran serta gagasan bahkan sikap Prof. Sri Edi Swasono ini, sebagai jelas merupakan bagian dari kebiasaan sang Profesor yang berasal dari kalangan kampus — pendidik, guru besar — untuk menerbitkan satu buku setiap tahun. Bunga rampai “Asah, Asih, Asuh” pada peringatan 100 tahun Tamansiswa pada 3 Juli 1922 – 2022. Artinya, bukan cuma sekedar penanda tradisi atau budaya sebagai intelektual dari kalangan akademik — seniman sekaligus memiliki wawasan kebudayaan yang luas — buku “Asah, Asuh, Asuh” ini menandai adanya tradisi menerbitkan buku, tetapi juga menggambarkan kiprah Tamansiswa untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa Indonesia sudah satu abad dilakukan jauh sebelum Indonesia merdeka yang kemudian mengadopsi cita-cita Tamansiswa seperti yang tercantum dalam UUD 1945, hendak mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sebagai sosok ideal yang menjadi idola aktivis mahasiswa sejak tahun 1980-an yang menghadapi refresif rezim pendidikan semasa Orde Baru dengan konsep BKK dan NKK 1978, Sri Edi Swasono pun yang telah menyandang gelar Ph.D setelah meraih gelar MPIA dari University of Pittsburgh tahun 1966 kemudian doktor pada tahun 1969 — singgah pada usia yang relatif muda, 30 tahun — hingga kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 1988, pada usia 49 tahun — pun sangat aktif dan giat terus mempublish karya tulisnya melalui berbagai media cetak — koran, majalah dan jurnal — yang patut menjadi rujukan. Diantara karya-karyanya adalah Terobosan Kultural (1986) Demokrasi Ekonomi : Keterkaitan Usaha Partisipasi VS Konsentrasi Ekonomi. (1988), Sistem Ekonomi dan Demokrasi Ekonomi (1991) serta Menuju Perekonomian Rakyat (1998) dan Indonesia & Doktrin Kesejahteraan Sosial.

Mas Sri Edi, juga mengajar di berbagai lembaga pendidikan, selain staf pengajar tetap di FEUi, juga di SESKOAD, Lemhanas. Bahkan sempat menjabat Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ilmu Koperasi, serta Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin).

Atas pengabdian dan perjuangannya, ia pantas memperoleh berbagai penghargaan dari dalam dan dari luar negeri seperti Setya Lencana Dwidya Sistha SESKOAL, penghargaan Kolonel dari Gubernur Kentucky, USA, serta Anugrah HB IX sebagai Prestasi dari Universitas Gajah Mada, tahun 2013, terkait dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kemanusiaan dan Kebudayaan. (Lia Hambali)

Banten, 21 Mei 2026

Berita Terkait

Direktur Eksekutif APKASI: Penyelenggaraan HUT di Deli Serdang Paling Meriah dan Layak Dicontoh
Pemkab Deli Serdang Tampilkan Potensi Unggulan dan Mini Mall Pelayanan Publik pada PRSU ke-50
Jaga Kamtibmas Tetap Kondusif, Polres Tebingtinggi Gelar Patroli Blue Light
Antisipasi Tindak Kriminal, Polsek Tebingtinggi Laksanakan Patroli Rutin
Ketum DPP PWOD Feri Rusdiono, SH Guncang Istana : Adili Harita Group dan TBP! Dugaan Mafia Tanah Berkedok PSN Menghancurkan Rakyat Pulau Obi
Ribuan Warga Meriahkan Fun Walk HUT APKASI ke-26 dan HUT ke-80 Kabupaten Deli Serdang
Oknum Kades Singengu Julu Terbukti Terlibat PETI, Bupati dan Kapolres Madina Didesak Bertindak Tegas 
Gandeng Garda Semeru Nusantara, MA Bidayatul Hidayah Jatirejo Jadi Pioneer Sekolah Bersih Narkoba

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:48 WIB

Direktur Eksekutif APKASI: Penyelenggaraan HUT di Deli Serdang Paling Meriah dan Layak Dicontoh

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:40 WIB

Pemkab Deli Serdang Tampilkan Potensi Unggulan dan Mini Mall Pelayanan Publik pada PRSU ke-50

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:32 WIB

Jaga Kamtibmas Tetap Kondusif, Polres Tebingtinggi Gelar Patroli Blue Light

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:28 WIB

Antisipasi Tindak Kriminal, Polsek Tebingtinggi Laksanakan Patroli Rutin

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:23 WIB

Ketum DPP PWOD Feri Rusdiono, SH Guncang Istana : Adili Harita Group dan TBP! Dugaan Mafia Tanah Berkedok PSN Menghancurkan Rakyat Pulau Obi

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:57 WIB

Oknum Kades Singengu Julu Terbukti Terlibat PETI, Bupati dan Kapolres Madina Didesak Bertindak Tegas 

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:53 WIB

Gandeng Garda Semeru Nusantara, MA Bidayatul Hidayah Jatirejo Jadi Pioneer Sekolah Bersih Narkoba

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:48 WIB

Keseruan Babinsa Kodim 1310/Bitung Nobar Piala Dunia Bersama Masyarakat, Ciptakan Lingkungan Aman, Nyaman dan Kondusif

Berita Terbaru