CIWIDEY, AGARANEWS – Kondisi sejumlah sarana dan prasarana di SMPN 1 Ciwidey, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan. Pasalnya, berdasarkan data anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah selama tiga tahun, yakni 2023 hingga 2025, tercatat mencapai Rp446.807.500.

Anggaran tersebut terbagi dalam dua tahap setiap tahunnya.
Pada 2023, anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana tercatat sebesar Rp51.630.000 pada tahap I dan Rp52.551.000 pada tahap II, dengan total Rp104.181.000.
Kemudian pada 2024, tahap I sebesar Rp102.755.200 dan tahap II Rp99.409.700, sehingga total mencapai Rp202.164.900.
Sementara pada 2025, tahap I tercatat Rp26.392.000 dan tahap II Rp114.069.600, dengan total Rp140.461.600.
Dengan demikian, total anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana SMPN 1 Ciwidey selama tiga tahun mencapai Rp446.807.500.

Anggaran Ratusan Juta, Kondisi Fisik Jadi Sorotan
Namun, besarnya anggaran pemeliharaan tersebut menjadi pertanyaan setelah kondisi fisik sejumlah fasilitas sekolah masih ditemukan dalam keadaan kurang terawat.
Berdasarkan hasil pemantauan di lingkungan sekolah pada Rabu, 2 September 2026, terlihat bagian dinding salah satu bangunan mengalami kerusakan. Plester dan cat mengelupas, bahkan pada beberapa bagian terlihat susunan bata.
Kondisi plafon pada bangunan tersebut juga tampak mengalami kerusakan, dengan bagian tertentu jebol dan struktur di atasnya terlihat.
Kerusakan yang terlihat tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai pemeliharaan bangunan sekolah. Terlebih, anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana yang tercatat selama tiga tahun mencapai hampir setengah miliar rupiah
Toilet Siswa Tanpa Kunci, Plafon Jebol dan Penuh Coretan



Sorotan juga mengarah pada fasilitas toilet siswa. Dalam pemantauan, ditemukan salah satu toilet siswa tidak memiliki kunci dari bagian dalam. Kondisi plafonnya juga terlihat tidak terawat dan pada beberapa bagian mengalami kerusakan hingga jebol.
Selain itu, terdapat fitting lampu yang tidak dilengkapi bohlam. Kondisi lantai di sejumlah bagian toilet juga tampak kucel dan membutuhkan perhatian dari sisi kebersihan.

Tidak hanya itu, bagian dalam toilet juga ditemukan penuh dengan coretan pada dinding. Kondisi tersebut menambah kesan kurang terawat pada fasilitas sanitasi yang digunakan oleh para siswa.

Keramik Tangga Menghitam
Kondisi kurang terawat juga terlihat pada tangga penghubung antar-lantai.
Sejumlah keramik tangga tampak dipenuhi noda hitam berupa sisa tanah yang sulit dibersihkan. Kondisi tersebut membuat tampilan lingkungan sekolah terlihat kusam.
Selain mengganggu kenyamanan dan estetika, permukaan yang kotor juga perlu menjadi perhatian apabila menjadi licin ketika terkena air.

Hampir Setiap Ruang Kelas Disebut Tidak Memiliki Kunci
Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah keamanan ruang kelas. Berdasarkan hasil pemantauan, hampir setiap ruang kelas disebut tidak memiliki kunci. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai aspek keamanan ruang kelas, terutama ketika ruangan tidak digunakan.
Ketiadaan kunci juga perlu menjadi perhatian dalam menjaga fasilitas pembelajaran, peralatan sekolah maupun barang milik siswa yang berada di dalam ruang kelas.

Kebersihan Sekolah Ikut Dipertanyakan
Selain kondisi fisik bangunan, kebersihan lingkungan sekolah juga menjadi perhatian.
Ada dugaan bahwa pengarahan kepada siswa untuk melaksanakan kebersihan setiap pagi belum berjalan secara optimal. Namun, hal tersebut masih membutuhkan klarifikasi dari pihak sekolah sehingga tidak menjadi kesimpulan sepihak.
Dengan kondisi sejumlah fasilitas yang ditemukan di lapangan, pertanyaan mengenai efektivitas pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah pun semakin mengemuka.

Anggaran Pemeliharaan Perlu Dijelaskan
Besarnya anggaran tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya penyalahgunaan atau penyimpangan anggaran. Namun, kondisi fisik fasilitas sekolah menjadi alasan yang wajar bagi publik untuk meminta penjelasan mengenai penggunaan anggaran pemeliharaan tersebut.
Publik tentu berharap setiap anggaran yang dialokasikan untuk pemeliharaan sarana dan prasarana benar-benar memberikan manfaat terhadap keamanan, kenyamanan dan kelayakan fasilitas pendidikan.
Sekolah Belum Berikan Jawaban Resmi
Untuk memperoleh konfirmasi, pihak sekolah telah dimintai keterangan. Rifka yang disebut sebagai operator sekolah menyampaikan bahwa Kepala SMPN 1 Ciwidey, Ahmad Rohman Somantri, sedang dalam kondisi sakit.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari kepala sekolah terkait penggunaan anggaran pemeliharaan sarana dan prasarana maupun kondisi fasilitas yang ditemukan di lapangan.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak SMPN 1 Ciwidey untuk menjelaskan secara terbuka terkait kondisi fasilitas serta realisasi pemeliharaan sarana dan prasarana selama 2023–2025 sebagai berita lanjutan.
(Saipullah)


































