“Warga Tahan Tangis Minta Bupati Antonius Ginting Selamatkan Doulu”
Tanah Karo, AgaraNews. Net // Sabtu malam 8 Agustus 2026, suasana di Desa Doulu tidak seperti biasanya. Tidak ada deru kendaraan wisatawan menuju Pemandian Air Panas. Yang ada hanya tumpukan kayu dan ratusan warga yang duduk menjaga jalan.
Jalan menuju Pemandian Air Panas Doulu diblokir. Bukan karena marah pada wisata. Tapi karena hati mereka sakit.
Isak tangis tertahan terdengar di antara obrolan warga. Pemicu pemblokiran ini adalah penangkapan 2 orang warga Doulu oleh aparat kepolisian.
“Mereka tidak terlibat pengutipan. Yang satu jualan sayur keliling, yang satu lagi jualan Aqua. Pulang jualan, ketika mereka duduk – duduk koq malah ditangkap,” ujar seorang ibu sambil menahan air mata.
Bagi warga Doulu, kedua orang itu bukan siapa-siapa. Mereka tulang punggung keluarga. Mereka warga biasa yang mencari nafkah halal untuk anak dan istri di rumah.
Di balik blokade jalan, ada rasa putus asa yang sudah lama dipendam. Warga merasa persoalan di Doulu tidak pernah selesai dan tidak pernah didengar.
“Dan apabila polisi tidak mengeluarkan kedua warga yang ditangkap tersebut, maka pemblokiran jalan akan terus berlanjut,” kata salah satu tokoh warga dengan suara bergetar namun tegas.
Bagi mereka, ini bukan soal menutup wisata. Ini soal harga diri dan keadilan. Jalan satu-satunya agar suara mereka didengar.
Akibatnya, wisatawan yang sudah jauh-jauh datang harus putar balik bahkan ratusan kendaraan wisatawan terjebak tidak bisa keluar. Pedagang di sekitar pemandian kehilangan penghasilan. Doulu yang biasanya ramai, kini sepi dan mencekam.
Di tengah blokade itu, nama Bupati Karo Antonius Ginting terus disebut bersama Forkopimda Kabupaten Karo, warga meminta para pemimpinnya turun langsung.
“Kami tidak minta banyak. Kami minta keadilan. Kami minta Pak Bupati datang, duduk bersama kami, dengarkan kami. Jangan biarkan Doulu terus seperti ini,” pinta warga.
Mereka berharap ada mediasi, ada dialog, ada jalan tengah. Bukan benturan. Karena Doulu adalah rumah mereka. Dan wisata adalah nafas ekonomi mereka.
Hingga Minggu pagi, blokade masih bertahan. Polisi berjaga, warga juga bertahan.
Konflik berkepanjangan ini seharusnya menjadi alarm bagi semua pihak. Bahwa hukum harus ditegakkan, tapi juga harus berkeadilan. Bahwa keamanan harus dijaga, tapi juga harus melindungi rakyat kecil.
“Kami cinta Doulu. Kami cinta Tanah Karo. Tolong jangan paksa kami memilih antara mencari keadilan atau mencari makan,” tutup seorang warga.
Kini bola panas ada di tangan Bupati Antonius Ginting dan Forkopimda. Akankah Doulu kembali tersenyum?
Hingga berita ini ditayangkan, pihak. Pemkab Karo dan Polres Karo belum bisa dimintai keterangan.(Lia Hambali)


































