Langkat, AgaraNews.Net – Serka TJP Marbun dan Serka Adi Ervanus mungkin lebih terbiasa dengan baris-berbaris dan latihan tempur. Namun di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, tangan mereka justru lebih cekatan memeriksa tensi dan mendengarkan keluhan warga.
Sebagai bagian dari Satgas TMMD 128 Kodim 0203/Langkat, keduanya kini melakoni peran baru sebagai _tabib loreng_. Setiap hari mereka menyisir pemukiman warga melalui jalan sunyi di pinggiran hutan mangrove, membawa kotak obat dan semangat pengabdian.
Setiap ketukan di pintu rumah kayu warga adalah awal dari sebuah konsultasi medis gratis. Tidak ada formulir panjang, tidak ada antrean. Hanya sapaan hangat, pemeriksaan sederhana, dan obat yang diberikan langsung di tempat.
Dari sakit kepala yang diderita Muriafi hingga demam yang menyerang Indah, semua ditangani dengan sigap. Bagi warga pesisir yang selama ini kesulitan menjangkau puskesmas, kehadiran tabib loreng terasa seperti hadiah yang datang tepat waktu.
“Prinsipnya, pelayanan harus menjangkau masyarakat. Kalau mereka tidak bisa datang ke kami, maka kamilah yang datang kepada mereka,” ujar salah satu personel Satgas, Jumat 15 Mei 2026.
Bagi Satgas TMMD 128, pelayanan kesehatan bukan hanya soal menyembuhkan raga. Di tangan mereka, obat menjadi penyambung tali silaturahmi antara korps loreng dan rakyat yang mereka jaga.
Sambil memeriksa, para prajurit juga mengobrol ringan dengan warga. Mereka menanyakan kondisi keluarga, mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dan memberikan edukasi pola hidup sehat. Obrolan singkat itu sering kali lebih menenangkan daripada obat yang diberikan.
Warga pun menyambut dengan terbuka. Senyum dan ucapan terima kasih mengiringi setiap langkah tabib loreng yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya.
Aksi door to door ini menjadi bukti nyata bahwa TMMD ke-128 tidak hanya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan dan jembatan. Program non fisik, khususnya di bidang kesehatan, menjadi jembatan untuk mendekatkan TNI dengan masyarakat.
Di pesisir Langkat, loreng bukan lagi simbol kekuatan militer semata. Kini ia juga menjadi simbol kepedulian, kehadiran negara, dan pengabdian tanpa syarat.
Dan di balik stetoskop yang tergantung di leher Serka Marbun dan Serka Adi, tersimpan satu hal yang lebih berharga dari sekadar diagnosis: senyum warga yang merasa diperhatikan.(Lia Hambali)
































