Irigasi Lawe Harum Jadi Harapan Besar Warga untuk Sawah Subur dan Kolam Ikan Kembali Hidup

HIDAYAT DESKY

- Redaksi

Selasa, 12 Mei 2026 - 23:06 WIB

505 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_16908288

Oplus_16908288

Kutacane – agaranews.net// Gemericik air yang mulai mengalir di saluran Irigasi Lawe Harum membawa secercah harapan baru bagi ribuan warga di Kecamatan Deleng Pokhkisen dan Kecamatan Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara. Di tengah hamparan sawah dan kolam ikan yang selama bertahun-tahun kerap dilanda kekeringan, masyarakat kini mulai menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Bagi warga di dua kecamatan tersebut, Irigasi Lawe Harum bukan sekadar bangunan pengairan. Irigasi itu adalah urat nadi kehidupan masyarakat desa yang selama ini menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian dan budidaya ikan air tawar.

Setiap musim kemarau tiba, kekhawatiran selalu menghantui para petani. Sawah yang biasanya hijau perlahan berubah kering dan retak. Padi yang baru tumbuh sering kali menguning sebelum sempat dipanen akibat kekurangan air.

Tak hanya petani padi, para pembudidaya ikan air tawar juga merasakan dampak besar dari minimnya pasokan air. Kolam-kolam ikan yang dahulu menjadi sumber penghasilan warga perlahan kehilangan debit air hingga akhirnya banyak yang terbengkalai.

Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang terpaksa mengubah kolam ikan menjadi lahan persawahan demi bertahan hidup di tengah sulitnya mendapatkan pasokan air.

Padahal selama ini Aceh Tenggara dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan air tawar terbesar di Provinsi Aceh. Namun dalam beberapa tahun terakhir, produksi ikan di daerah itu disebut mengalami penurunan drastis akibat terganggunya aliran air menuju kawasan budidaya masyarakat.

Kini, harapan masyarakat perlahan mulai tumbuh kembali seiring berlangsungnya proyek rehabilitasi dan peningkatan jaringan utama Irigasi Lawe Harum yang tengah dikerjakan pemerintah.

Irigasi Lawe Harum diketahui mengairi sekitar 1.050 hektare areal persawahan dan kolam ikan air tawar di Kecamatan Deleng Pokhkisen dan Lawe Bulan. Keberadaannya sangat vital karena menjadi sumber utama pengairan bagi ribuan warga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan.

Di sejumlah desa, aktivitas masyarakat masih terlihat sangat bergantung pada aliran air dari irigasi tersebut. Sejak pagi hari, para petani sudah turun ke sawah untuk membersihkan lahan dan memeriksa saluran air. Sementara di sisi lain, warga yang memiliki kolam ikan mulai membersihkan kolam mereka dengan harapan debit air kembali normal setelah proyek rehabilitasi selesai.

Warga Desa Lawe Harum, Nurma, mengatakan sebelum adanya rehabilitasi jaringan irigasi, para petani hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun. Bahkan saat musim kemarau panjang datang, banyak sawah mengalami kekeringan hingga gagal panen.

“Kalau kemarau panjang, sawah kami sering kering. Kadang padi belum sempat panen sudah mati karena tidak ada air,” kata Nurma, Senin (11/5/2026).

Ia mengaku masyarakat sangat berharap pembangunan Irigasi Lawe Harum segera selesai agar pasokan air kembali stabil untuk kebutuhan sawah dan kolam ikan warga.

“Dengan dibangunnya kembali Irigasi Lawe Harum, kami berharap air untuk persawahan dan kolam ikan masyarakat bisa terpenuhi lagi,” ujarnya.

Menurutnya, jika air kembali mengalir lancar, maka hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat desa juga akan ikut bergerak.

“Kalau air lancar, hasil gabah meningkat, buruh tani dapat kerja, penggilingan padi hidup, kios pupuk ramai, kios pakan ikan juga ikut laku. Semua masyarakat ikut merasakan dampaknya,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Salam, petani asal Desa Penampaan. Ia mengungkapkan selama ini masyarakat harus bergotong royong memperbaiki saluran air menggunakan batu dan karung pasir setiap memasuki musim tanam agar air tetap bisa mengalir ke sawah warga.

“Kami sering turun bersama-sama memperbaiki saluran yang rusak supaya air tetap masuk ke sawah. Kalau tidak diperbaiki, banyak sawah tidak kebagian air,” katanya.

Menurut Salam, rehabilitasi Irigasi Lawe Harum menjadi harapan besar bagi masyarakat yang selama ini hidup dari hasil pertanian.

“Kami sangat berharap pembangunan irigasi ini cepat selesai supaya air bisa sampai ke desa kami dan benar-benar dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Proyek rehabilitasi dan peningkatan jaringan utama Irigasi Lawe Harum tersebut merupakan bagian dari kegiatan Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Utama pada Kewenangan Daerah Provinsi Aceh Tahap II (Paket I) dengan nomor kontrak PB 0201-Bws1 61/1704.

Pekerjaan itu memiliki nilai kontrak sebesar Rp26,27 miliar yang bersumber dari APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Sumber Daya Air untuk tiga kabupaten di Provinsi Aceh.

Adapun pelaksana proyek yakni PT Hutama Karya (Persero) dengan konsultan pengawas Agrinas Jaladri. Hingga kini, proses pengerjaan masih terus berlangsung di sejumlah titik saluran utama irigasi.

Meski sempat menjadi sorotan dan perbincangan di kalangan aktivis maupun masyarakat, warga di Kecamatan Deleng Pokhkisen dan Lawe Bulan justru menaruh harapan besar terhadap pembangunan tersebut. Mereka menilai rehabilitasi Irigasi Lawe Harum menjadi solusi nyata untuk mengatasi persoalan kekurangan air yang selama ini menghambat sektor pertanian dan perikanan.

Bagi masyarakat desa, keberhasilan proyek itu bukan hanya soal pembangunan fisik semata, tetapi juga menyangkut masa depan kehidupan mereka. Sebab ketika air kembali mengalir normal, sawah akan kembali produktif, kolam ikan kembali hidup, dan ekonomi masyarakat perlahan bangkit.

Di tengah hamparan sawah yang pernah mengering dan kolam ikan yang sempat terbengkalai, aliran air dari Irigasi Lawe Harum kini menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat Aceh Tenggara — harapan agar pertanian kembali subur, produksi ikan meningkat, dan kesejahteraan warga desa kembali tumbuh dari aliran air yang selama ini mereka nantikan. Tim

Berita Terkait

Ahmad Ripai Pimpin HMI-MPO Cabang MADINA Periode 2026-2027
Penangkapan Bandar Narkoba di Siabu, GM GRIB Jaya Duga Ada Jaringan Terorganisir Dan Desak Polres Madina Bongkar Aktor Besar dibaliknya
Sebulan Menghalau Dahaga: Langkah Kilat Tentara di Tanah Gebang
Loreng dan Cokelat Ngopi Bareng Warga Gebang, Bangun Kepercayaan di Meja Kopi Pasar Rawa
Bukan Sekadar Semen dan Pasir, ‘Diplomasi Meja Kopi’ Jadi Senjata Ampuh Satgas TMMD 128 di Langkat
Srawung di Meja Kopi, Cara Tentara Merawat Nadi Kehidupan di Langkat
Tentara “Sulap” Air Mata Menjadi Air Bersih di Pasar Rawa
Menjemput Martabat dari Pancuran Air Pasar Rawa

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:52 WIB

Ahmad Ripai Pimpin HMI-MPO Cabang MADINA Periode 2026-2027

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:47 WIB

Penangkapan Bandar Narkoba di Siabu, GM GRIB Jaya Duga Ada Jaringan Terorganisir Dan Desak Polres Madina Bongkar Aktor Besar dibaliknya

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:33 WIB

Sebulan Menghalau Dahaga: Langkah Kilat Tentara di Tanah Gebang

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:29 WIB

Loreng dan Cokelat Ngopi Bareng Warga Gebang, Bangun Kepercayaan di Meja Kopi Pasar Rawa

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:26 WIB

Bukan Sekadar Semen dan Pasir, ‘Diplomasi Meja Kopi’ Jadi Senjata Ampuh Satgas TMMD 128 di Langkat

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:19 WIB

Tentara “Sulap” Air Mata Menjadi Air Bersih di Pasar Rawa

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:16 WIB

Menjemput Martabat dari Pancuran Air Pasar Rawa

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:03 WIB

50 Siswa Sulut Dibiayai Jadi Dokter, Pemerintah Provinsi Siapkan Skema Pemerataan Tenaga Medis

Berita Terbaru

HEADLINE

Ahmad Ripai Pimpin HMI-MPO Cabang MADINA Periode 2026-2027

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:52 WIB